Menjemput yang Tertinggal, Mengemaskan yang Tercecer, Mengingatkan yang Terlupa " ELING LAN WASPADA"

widgeo.net

Kamis, 14 Juli 2011

AJARAN RMP SOSRO KARTONO

” Ing donya mung kebak kangelan, sing ora gelem kangelan aja ing donya. “
” Di dunia penuh dengan kesusahan, yang tidak mau susah jangan di dunia.

“… Kula badhe nyobi prabotanipun wong lanang, inggih punika: bares, mantep, wani.” “… Saya akan mencoba identitas seorang lelaki, yaitu: jujur, mantab, wani …”

“Boten kenging tiyang jaler ngunduri utawi nyingkiri bebaya utami, saha cidra dhateng pengajeng-ajeng lan kepercadosipun sesami.”
Intinya, seorang pemberani jangan takut menghadapi apapun..

“Yen kapergok aja mlayu.”
dan jika bertemu suatu bahaya, jangan lari. (Bertanggungjawab)

“Ing donya mung kebak kangelan, seng ora gelem kangelan aja ing donya.”
“Di dunia penuh dengan kesusahan, yang tidak mau susah jangan di dunia.”

“Ajinipun inggih boten sanes naming aji tekad, ilmunipun ilmu pasrah, rapalipun adiling Gusti.”
Intinya, tak perlu mempelajari ajian-ajian, cukup dengan tekad yang baik, dengan kepasrahan yang benar dan selalu berlindung di bawah sifat adil tuhan.

“Kula bade ngukur dedeg kula, nimbang botin kamantepan, njajagi gayuhanipun budi.”
Intinya, di dalam sebuah pengembaraan, sebaiknya seseorang juga perlu mempertimbangkan keyakinan yang dimilikinya dan mendalami raihan budi. Sejauh mana keyakinan dan raihan budinya, dapat dilihat setelah seseorang menjalani pengembaraan, karena di sanalah kedua hal tersebut dapat teruji dan terbukti.

“Pakerti asor numusi anak putu lan mbekta kasengsarane tiyang katah.”
Intinya, harus tahu bahwa perbuatan atau akhlak yang buruk dapat terwarisi oleh sang anak dan dapat mendatangkan kesengsaraan orang lain.

“Aja dumeh, tepa slira, ngerti kuwalat.”
Intinya, janganlah merasa hebat. Terhadap siapapun harus tenggang rasa. Dan harus tahu kena tuah (semisal hukum karma).

“Wani mengku: anteping ati, kencenging pikir, boboting kekuatane.”
Intinya, kemantapan dan kekuatan hati, pikiran yang kuat atau teguh dan bobotnya kekuatan harus dimiliki.

“Nekad: Kekendelan, ngluwihi kekuatan.”
Intinya, bertekad bahwa kepastian (di dalam diri) itu melebihi kekuatan.

“Dede tekad pamrih, nanging tekad asih.”
Intinya, berdasarkan pada tekad asih, bukan tekad pamrih.

“Tiyang mlampah punika, sangunipun lan gembolanipun satunggal, inggih punika : “maksudipun”.
Intinya, orang berjalan hanya mempunyai satu bekal, yaitu niat.

“Barang sanesipun saged dipun wastani ngriribedi lan ngrawati lampah, kenging dipun wastani ugi : Ngendoni niyat utawi “ngeker ancas lan tujuning lampah”.”
Intinya, barang lainnya selain niat yang baik, hanya akan menjadi penghalang dan memperberat langkah, dapat juga dinamakan sesuatu yang bisa mengendorkan niat, bisa memutar tujuan perjalanan. Gara-gara mencari sesuatu yang tak jelas, niat seseorang dapat berubah.

SEKILAS BIOGRAFI

Raden Mas Panji Sosrokartono lahir di Mayong pada hari Rabu Pahing tanggal 10 April 1877 M. Beliau adalah putera R.M. Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Semenjak kecil beliau sudah mempunyai keistimewaan, beliau cerdas dan mempunyai kemampuan membaca masa depan.

Kakak dari ibu kita Kartini ini, setelah tamat dari Eropesche Lagere School di Jepara, melanjutkan pendidikannya ke H.B.S. di Semarang. Pada tahun 1898 meneruskan sekolahnya ke negeri Belanda. Mula-mula masuk di sekolah Teknik Tinggi di Leiden, tetapi merasa tidak cocok, sehingga pindah ke Jurusan Bahasa dan Kesusastraan Timur. Beliau merupakan mahasiswa Indonesia pertama yang meneruskan pendidikan ke negeri Belanda, yang pada urutannya disusul oleh putera-putera Indonesia lainnya.

Dengan menggenggam gelar Docterandus in de Oostersche Talen dari Perguruan Tinggi Leiden, beliau mengembara ke seluruh Eropa, menjelajahi pelbagai pekerjaan. Selama perang dunia ke I, beliau bekerja sebagai wartawan perang pada Koran New York Herald dan New York Herald Tribune. Kemudian, setelah perang usai, beliau menjadi penerjemah di Wina, tapi beliau pindah lagi, bekerja sebagai ahli bahasa pada kedutaan Perancis di Den Haag, dan akhirnya beliau hijrah ke Jenewa. Sebagai sarjana yang menguasai 26 bahasa, beliau bekerja sebagai penerjemah untuk kepentingan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Jenewa.

Sampai suatu ketika terdengar berita tentang sakitnya seorang anak berumur ± 12 tahun. Anak itu adalah anak dari kenalannya yang menderita sakit keras, yang tak kunjung sembuh meki sudah diobati oleh beberapa dokter. Dengan dorongan hati yang penuh dengan cinta kasih dan hasrat yang besar untuk meringankan penderitaan orang lain, saat itu juga beliau menjenguk anak kenalannya yang sakit parah itu. Sesampainya di sana, beliau langsung meletakkan tangannya di atas dahi anak itu dan terjadilah sebuah keajaiban. Tiba-tiba si bocah yang sakit itu mulai membaik dengan hitungan detik, dan hari itu juga ia pun sembuh.

Kejadian itu membuat orang-orang yang tengah hadir di sana terheran-heran, termasuk juga dokter-dokter yang telah gagal menyembuhkan penyakit anak itu. Setelah itu, ada seorang ahli Psychiatrie dan Hypnose yang menjelaskan bahwa sebenarnya Drs. R.M.P. Sosrokartono mempunyai daya pesoonalijke magneetisme yang besar sekali yang tak disadari olehnya.

Mendengar penjelasan tersebut, akhirnya beliau merenungkan dirinya dan memutuskan menghentikan pekerjaannya di Jenewa dan pergi ke Paris untuk belajar Psychometrie dan Psychotecniek di sebuah perguruan tinggi di kota itu. Akan tetapi, karena beliau adalah lulusan Bahasa dan Sastra, maka di sana beliau hanya diterima sebagai toehoorder saja, sebab di Perguruan Tinggi tersebut secara khusus hanya disediakan untuk mahasiswa-mahasiswa lulusan medisch dokter.

Beliau kecewa, karena di sana beliau hanya dapat mengikuti mata kuliah yang sangat terbatas, tidak sesuai dengan harapan beliau. Di sela-sela hati yang digendam kecewa, datanglah ilham untuk kembali saja ke tanah airnya. Di tanah airnyalah beliau harus mencurahkan segenap tenaga dan pikiran untuk mengabdikan diri kepada rakyat Indonesia. Sesampainya di indonesia, beliau bertempat tinggal di Bandung, beliau menjadi sang penolong sesama manusia yang menderita sakit jasmani maupun rohani.

Di Bandung, di Dar-Oes-Salam-lah beliau mulai mengabdikan dirinya untuk kepentingan umat. Beliau terkenal sebagai seorang paranormal yang cendekiawan di mana saja, bahkan beliau pernah mendapat undangan Sultan Sumatera, Langkat. Di daerah sanalah beliau mulai menampakkan kepribadiannya secara pasti, karena di sebuah kerajaan beliau masih menunjukkan tradisi Jawanya, kerendah-hatiannya, kesederhanaannya, tidak mau menikmati kemewahan, bahkan dalam beberapa hari di tiap harinya beliau hanya makan dua buah cabe atau sebuah pisang.

Beliau tidak menikah, tidak punya murid dan wakil.

Pada hari Jum’at Pahing, tanggal 8 februari 1952 di rumah Jl. Pungkur No. 19 Bandung, yang terkenal dengan sebutan Dar-Oes-Salam, Drs. R.M.P. Sosrokartono kembali ke Sang Pencipta dengan tenang, tentram.

MANDOR KLUNGSU

“… para Pangeran ingkang sesami rawuh perlu manggihi pun Klungsu, …”
“… para pangeran yang berdatangan perlu menemui si Klungsu, …”

“Salam alaikum, Kula pun Mandor Klungsu.”
“Salam alaikum, Saya si Mandor Klungsu.”

“Taklimi pun Mandhor … Pak Klungsu.”
“Taklimnya Mandhor … Pak Klungsu.”

“Salam taklimipun lan padonganipun. Pak Klungsu.”
“Salam taklimnya dan do’anya. Pak Klungsu.”

Kutipan- kutipan di atas menunjukkan bahwa Drs. R.M.P. Sosrokartono menyebut dirinya sebagai “Mandor Klungsu”.

Klungsu artinya biji asam, bentuknya kecil tapi keras (kuat) yang ketika ditanam dan dirawat sebaik-baiknya, maka akan menjelma sebuah pohon yang besar-kekar, berdaun rimbun dan berbuah lebat.

Bukan sekedar biji buah asam, melainkan kepala/pimpinannya.

Pohon asam mulai dari pohon sampai bijinya, semua dapat dimanfaatkan. Selain itu, mempunyai sifat kokoh dan tegar.

Ketika melihat kiprahnya sehari-hari, maka beliau hanya seorang Mandor, Mandor Klungsu, yang harus menjalankan perintah Sang Pimpinan (Tuhan), serta mempertanggungjawabkan semua karyanya selama itu kepada Tuhannya.

“Kula dermi ngelampahi kemawon.”

Maksudnya, “Saya hanya menjalankan saja.”

“Namung madosi barang ingkang sae, sedaya kula sumanggaken dhateng Gusti.”

Maksudnya, “Saya hanya mencari sesuatu yang baik, semuanya saya serahkan kepada Tuhan.”

“Kula saged nindhakaken ibadat inggih punika kuwajiban bakti lan suwita kula dhateng sesami.”
Maksudnya, “Saya bisa menjalankan ibadah, yaitu kewajiban berbakti dan pengabdian saya kepada sesama.”

JAKA PRING

“… Nyuwun pangestunipun para sedherek dhumateng pun Djoko Pring.”

“… mohon do’a restunya saudara-saudara untuk si Jaka Pring.”

“Saking Ulun, Djoko Pring.”

“Dari saya, Jaka Pring.”

Selain untuk dijadikan nama, Drs. R.M.P Sosrokartono juga pernah menuliskannya sebagai berikut:

“Pring padha pring

Weruh padha weruh

Eling tanpa nyanding.”
Artinya, “Bambu sama-sama bambu, tahu sama-sama tahu, ingat tanpa mendekat.”



Versi lain berbunyi:

“Susah padha susah; seneng padha seneng; eling padha eling; pring padha pring.”

Artinya, “Susah sama-sama susah; senang sama-sama senang; ingat sama-sama ingat; bambu sama- sama bambu.”

Jaka adalah jejaka/laki-laki yang belum (tidak) menikah dan Pring
adalah bambu.

Pohon bambu adalah pohon yang sekujur tubuhnya dapat dimanfaatkan oleh siapa saja yang berkepentingan dengannya. Pohon Bambu dapat dimanfaatkan untuk membuat rumah, mulai dari tiang, atap, dinding, pagar, sampai atap-atapnya. Bukankah orang-orang dahulu menjadikan daun bambu sebagai genteng rumah mereka? Ranting-rantingnya dapat dijadikan kayu bakar atau pagar. Bambu dapat digunakan untuk membuat balai-balai, sangkar, keranjang, tempayan, tembikar, kursi, dll. Cikal bakal dari pohon bambu dapat dimanfaatkan untuk sayur/dimakan. Yang jelas, semuanya dapat dimanfaatkan, semuanya dapat difungsikan atau dibutuhkan sesuai kehendak orang yang bersangkutan.

Satu hal lagi, jenis bambu itu bermacam-macam. Sesuai dengan hajat seseorang dalam memfungsikan bambu, maka ia mempunyai pilihan terhadap jenis bambu yang mana ia butuhkan. Apakah bambu pethung, bambu ori, bambu wuluh, bambu apus dan lain sebagainya.



Kutipan di atas juga mengutarakan bahwa, apapun jenis kita, bangsa kita, agama kita, ras, warna kulit, perbedaan bahasa dan suku kita, kita tetap sama, sama-sama tahu, sama-sama manusia.
Apapun jenis, warna dan bentuknya bambu, tetap bambu. Tak ada perbedaan, semua sama belaka. Manusia yang satu dengan manusia yang lain adalah sama. Seperti ketika beliau melakukan perjalanan ke luar Jawa, kemudian beliau bertemu oleh sekian jenis manusia dengan status sosial yang berbeda. Bagi beliau, semua manusia disejajarkan. Sikap egalitarisme tetap dijaga dan dilestarikan.

Dalam kondisi dan situasi bagaimanapun dan di manapun, ingat akan keterciptaan, teringat akan sesama, saling mengingatkan dan ingat kepada Tuhan Yang Maha Esa, Yang Maha Pemurah. Ketika manusia itu ingat kepada Tuhannya, maka Tuhanpun akan ingat kepadanya.

GURU SEJATI

“Murid, gurune pribadi

Guru, muride pribadi

Pamulangane, sengsarane sesami

Ganjarane, ayu lan arume sesami.”


Artinya, “Murid gurunya diri pribadi. Guru, muridnya diri pribadi. Tempat belajarnya/pelajarannya, penderitaan sesama. Balasannya, kebaikan dan keharuman sesama.”

Untaian itu mengandung pengertian bahwa sesungguhnya dalam diri seseorang terdapat seorang guru dan diri seseorang itu sendiri menjadi murid, murid dari guru sejati.
Sebab, pada intinya, segala bentuk ilmu dan pengetahuan itu hanya datang dari Tuhan, karena guru selain Tuhan itu hanya sebagai perantara belaka.

“Sinau ngarosake lan nyumerepi tunggalipun manungsa, tunggalipun rasa, tunggalipun asal lan maksudipun agesang.”

Artinya, “Perlu belajar ikut merasakan dan mengetahui bahwa manusia itu satu, rasa itu satu, berasal dari tempat yang sama, dan belajar memahami arti dari tujuan hidup.”

“Tansah anglampahi dados muriding agesang.”

Artinya, “Selalu menjalani jadi murid kehidupan/sesama hidup.”
Kehidupan itulah sang guru, karena kehidupan itu juga mengajarkan kepada kita.

SANG ALIF

“… Ping kalihipun perlu babat lan ngatur papan kangge masang Alif. (Masang Alif punika inggih kedah mawi sarana lampah. Boten kenging kok lajeng dipun canthelaken kemawon, lajeng dipun tilar kados mepe rasukan).”
Artinya, “Yang keduanya perlu membuka dan mengatur tempat untuk memasang Alif. (Memasang Alif itu harus dengan sarana penghayatan. Tidak boleh hanya dicantolkan begitu saja, lalu ditinggal layaknya menjemur pakaian.
“Ngawula dateng kawulaning Gusti lan memayu ayuning urip, …”
Maksudnya adalah mengabdi kepada abdinya Tuhan dan memperbaiki keindahan hidup.

Diungkapkan bahwa Drs. R.M.P. Sosrokartono memiliki tiga buah Alif, yaitu :

1. Sang Alif warna hitam, dengan dasar putih.

2. Sang Alif warna putih, dengan dasar biru muda.

3. Sand Alif warna putih, dengan dasar merah.

Ketika melayani dan mengobati orang-orang yang sakit, Drs. R.M.P. Sosrokartono selalu berdiri. Beilau kuat sekali berdiri berjam-jam atau berhari-hari. Setelah mengobati orang-orang sampai pukul 12 malam, Dar-Oes-Salam ditutup. Namun beliau tidak langsung tidur, beliau seringkali bermain catur sampai jam 3, 4 pagi, itupun beliau lakukan sambil berdiri.

KANTHONG BOLONG

“Nulung pepadhane, ora nganggo mikir

wayah, wadhuk, kanthong.

Yen ana isi lumuntur marang sesami.”
Artinya, “Menolong sesama, tidak perlu memakai pikiran waktu, perut, saku. Jika (saku) berisi mengalir kepada sesama.”

Dengan demikian, maksud dari “Ilmu Kanthong Bolong” adalah sebuah pengetahuan konkrit tentang sebentuk tempat yang selalu kosong, yang secara pasti tempat itu tak pernah membiarkan sesuatu yang dimilikinya tetap ada, karena tempat itu berlobang, maka apapun yang ditaruh di sana selalu mengalir, sehingga menjadi kosong dan sunyi dari apa saja.
“Nulung tiyang kula tindakaken ing pundi-pundi, sak mangsa-mangsa, sak wanci-wanci.”

Maksudnya, menolong orang itu dilaksanakan di mana-mana, sewaktu-waktu, kapan saja.

SUGIH TAMPA BANDHA

“Sugih tanpa bandha.

Digdaya tanpa hadji.

Ngalurug tanpa bala.

Menang tanpa ngasoraken.”
Artinya, “Kaya tanpa harta. Sakti tanpa azimat. Menyerang tanpa balatentara. Menang tanpa merendahkan.”

Demikianlah kata-kata mutiara yang tertera pada salah satu batu nisan makam Drs. R.M.P. Sosrokartono di Sidhomukti Kudus.

Ajaran Drs. R.M.P. Sosrokartono ini tidak mengajak orang-orang Indonesia jadi orang yang melarat, miskin, tak punya harta, sehingga mudah dipermainkan oleh mereka yang berharta. Tapi sesungguhnya, kembali pada penjelasan bahwa orang kaya itu bukanlah karena banyak harta bendanya, melainkan orang kaya itu adalah orang yang kaya hatinya, yang kaya mentalnya.

“Puji kula mboten sanes namung sugih-sugeng-seneng-ipun sesami.”
Maksudnya, si miskin akan akan tetap jadi miskin atau makin miskin karena bermental miskin.

Bukankah orang kaya itu orang yang sudah tak lagi membutuhkan sesuatu, karena semuanya telah terpenuhi? Meskipun anda tak berharta, tapi anda sudah merasa cukup dengan apa yang anda dapatkan di dunia ini, maka andalah orang kaya itu. Sebaliknya, meskipun anda banyak berharta, tapi anda masih menginginkan dan membutuhkan sesuatu yang begini dan begitu, maka anda bukanlah orang kya, karena anda masih fakir (butuh) dan kebutuhan anda belum tercukupi.

DIGDAYA TANPA AJI

“Ajinipun inggih boten sanes namung aji tekad; ilmunipun ilmu pasrah; rapalipun adilipun Gusti.”
Artinya, “Ajiannya tidak lain hanyalah ajian tekad, ilmunya ilmu pasrah, manteranya keadlan Tuhan.”

Perbuatan taat dan meninggalkan maksiat itulah sumber energi yang dapat membuat seseorang sakti mandraguna, disamping kemampuan diri mengekang gejolak syahwat dan dari perintah nafsu yang buruk.
Rumusan beliau “Digdaya tanpa Aji” ada pada tiga tahapan, yaitu :

Tekad

Tekad adalah sifat yang merujuk pada semangat dan keberanian diri dalam menghadapi segala masalah, seperti rekayasa hidup, fitnah dan bujukan dunia. Tekad ada karena ada niat, sementara segala sesuatu itu tergantung pada niatnya. Jika niatnya itu baik, maka baiklah jadinya. Selain itu, dengan tekad manusia dapat menyelesaikan tugas-tugasnya. Tekad bukan berarti spekulasi miring, tapi lebih mengarah pada sikap tidak takut pada apapun dan siapapun, sehingga hasil yang dicapaipun menjadi maksimal. Tekad dapat dijadikan senjata, yakni senjata psikis dalam menghadapi setiap masalah. Oleh karena itu tekad dapat dijadikan ajian, azimat pamungkas dalam segala urusan. Untuk mendapatkan “aji tekad” tidak perlu melakukan laku (tirakat), tidak pula belajar ilmu kanuragan dahulu, tetapi “aji tekad” dapat diperoleh dengan menanam keberanian, kepasrahan, keadilan dan niat yang baik dalam diri.

Pasrah

Ilmu pasrah dapat juga disebut ilmu tawakal. Memasrahkan diri sepenuhnya kepada Yang Maha Kuasa. Ilmu tawakal ini bisa diperoleh dengan menanamkan pemahaman dalam diri bahwa tak ada kuasa dan daya selain kuasa dan daya Tuhan Yang Maha Agung. Hidup dan mati itu urusan Tuhan, sukses dan gagal atas kehendak Tuhan. Intinya, menyerahkan permasalahan hidup ini kepada Tuhan, karena Dialah sebaik-baiknya Wakil. Pasrahkan jiwa dan raga kepada-Nya; Dibalik tawakkal ada keselamatan, karena ketika manusia telah menyerahkan hidup-matinya, segala urusannya kepada Yang Maha Esa, maka Dialah yang akan melindungi dan menyelamatkannya dari bahaya dan bencana.

Keadilan

Keadilan disini adalah lafal, kata/tanda yang disandarkan kepada Tuhan. Keadilan ini sulit didapat dan sulit dipraktekkan, kaena keadilan adalah puncak dari kebaikan. Ketika manusia tak dapat berbuat adil, maka Tuhanlah yang akan memberikan keadilan. Keadilan Tuhan ini sangat menakutkan, karena Yang Maha Adil itu takkan memandang siapa yang akan diadili, sehingga keadilan benar-benar ditegakkan.

Ketika keadilan-Nya telah berbicara, maka kebenaranlah yang ada. Ketika keadilan Tuhan telah menjadi ucapan seseorang dalam denyut kehidupannya, maka kebenaran dan kebaikanlah yang diperolehnya.

“Tanpa aji, tanpa ilmu, kula boten gadhah ajrih, sebab payung kula Gusti kula, tameng kula inggih Gusti kula.”
Artinya, “Tanpa ajian, tanpa ilmu (kanuragan), saya tidak takut, sebab payung atau pelindung saya adalah Tuhan dan perisai saya juga hanya Tuhan.”

BERTEMPUR TANPA PASUKAN

“Ngalurug tanpa Bala” adalah merupakan sebagian kebenaran hidup yang harus dihayati dan diamalkan, karena ungkapan ini merujuk pada istilah berkarya dengan tangan sendiri. Tak perlu bantuan, tak perlu teriak-teriak meminta pertolongan, karena diri pribadi sudah dapat mengatasi apa yang dialami.

Sesungguhnya musuh manusia adalah setan, baik setan manusia maupun setan jin, maka kepada keduanyalah manusia harus melakukan perlawanan. Sekali lagi, setan-setan itulah yang harus dilawan, diperangi, dan kalau bisa, dimusnahkan saja. Dengan bekal teksd dan keberanian yang suci, maka tak ada yang tak dapat dihancurkan, karena semua mahluk akan binasa kecuali Dzat-Nya.

Kasih sayang dapat melunakkan musuh, dapat menolong, dapat dijadikan pelindung, dan dengan tekad asih, kita tidak akan merasa takut terhadap siapapun dan apapun.

“Ingkang kula dalaken dede tekad pamrih, ananging tekad asih.”
Artinya, “Yang saya pergunakan bukan tekad pamrih, tapi tekad asih.”
“Anglurug tanpa bala, tanpa gaman; Ambedhah, tanpa perang tanpa pedhang.”

Maksudnnya, mengejar (musuh) tanpa tentara, tanpa senjata; menundukkan (musuh) tanpa perang tanpa pedang.Tak perlu teman, tak perlu senjata. Hindarilah peperangan, pertarungan, atau kekerasan.

Yakinlah bahwa orang yang berjalan dengan membawa cinta kasih kepada sesama mahluk akan senantiasa mendapatkan pertolongan dan perlindungan Tuhan.

Meskipun manusia tidak mencari masalah atau musuh, permasalahan atau musuh itu datang dengan sendirinya dan akan meniupkan gangguan-gangguan. Akan tetapi, permasalahan dan musuh yang ada di dalam diri kita sendiri. Tekanan batin, penderitaan mental, atau nafsu-nafsu kotor yang menghuni lembah diri kita itulah permasalahan dan musuh kita yang berat lagi membahayakan, karena tak tampak tetapi dapat kita rasakan.

Nafsu-nafsu jahat yang menghuni diri manusia bermacam-macam. Nafsu-nafsu itulah yang pada umumnya membuat manusia menjadi sombong, kikir, dengki, jahat dan segala bentuk sifat buruk sering bercokol dalam dirinya, sehingga kehinaan dan kenestapaanlah yang diperoleh, bukan kemuliaan dan keselamatan. Maka, sangat elegan jika Drs. R.M.P. Sosrokartono mencetuskan rumusan “Ngalurug tanpa Bala” yang mempunyai muatan ajaran spiritual dalam rangka menghalau segala bentuk keburukan yang ada didalam diri manusia, supaya manusia tidak menjadi hina, karena barang siapa yang dikalahkan dengan hawa nafsunya maka kehinaanlah yang akan bersanding mesra dengannya.

TRIMAH MAWI PASRAH


“Trimah mawi pasrah.

Suwung pamrih, tebih ajrih.

Langgeng tan ana susah, tan ana seneng.
Antheng mantheng sugeng jeneng.”

Artinya, “Menerima dengan pasrah. Tiada pamrih, jauh dari takut. Abadi tiada duka, tiada suka. Tenang memusat, bahagia bertakhta.”

Konsep “trimah mawi Pasrah”, oleh Drs. R. M. P. Sosrokartono, diperjelas dengan apa yang pernah beliau katakan di bawah ini :

“Ikhlas marang apa sing wes kelakon.

Trimah apa kang dilakoni.
Pasrah marang apa bakal ana.”

Artinya, “Ikhlas terhadap apa yang telah terjadi. Menerima apa yang dijalani. Pasrah terhadap apa yang akan ada.”

Jadi, selain bergandengan dengan ilmu sabar, ilmu pasrah dan ilmu trimah juga bergandengan dengan ilmu ikhlas, tidak mencari pamrih, tidak karena ingin dipuji, tidak pamer kepada orang lain. Apa yang telah terjadi, biarlah terjadi, karena kepasrahan akan membawa keridhaan, dan keridhaan akan membawa keikhlasan, dan itulah sabar, sebuah sifat yang sangat disukai oleh Tuhan.

“Trimah mawi Pasrah” juga dapat diartikan bahwa manusia hanya dapat berusaha, sedangkan Tuhanlah yang menentukan segalanya. Oleh karena itu, janganlah terlalu menyesali nasib, karena dibalik derita ada bahagia, dibalik kesusahan ada kemudahan. Yang pasrah akan mendapat kemudahan, yang ridha akan mendapatkan ganti, yang sabar akan mendapatkan kemuliaan dan yang ikhlas akan mendapat ketenangan dan kebahagiaan hati.

SUWUNG PAMRIH TEBIH AJRIH

” … Suwung pamrih, suwung ajrih, namung madosi barang ingkang sae, sedaya kula sumanggaken dhateng Gusti … “

Artinya, ” … Tiada pamrih, tiada takut, hanya mencari sesuatu yang baik, semua saya serahkan kepada Tuhan … “

“Yen kula ajrih, kenging dipun wastani ngandut pamrih utawi ancas ingkang boten sae.”

Artinya, “Jika saya takut, boleh dikatakan (bahwa saya) menyimpan pamrih atau niat yang tidak baik.”

“Luh ingkang medal sangking manah punika, dede luh ipun tangis pamrih, nanging luh peresanipun manah suwung pamrih.”

Artinya, “Air mata yang keluar dari hati ini, bukanlah air matanya tangis pamrih, tetapi air mata perasan hati yang kosong pamrih.”

Ketika anda menangis, menangislah karena syukur dan ikhlas, bukan karena menginginkan imbalan yang tak kunjung tiba. Apalah artinya menantikan imbalan, jika semua yang ada tak mengizinkan. Apalah artinya tangisan hanya gara-gara ingin dipuji, dibalas atau diberi, jika kemuliaan jauh dari kita. Yang terpenting adalah kedamaian, ketentraman, aman, kebahagiaan dan kemuliaan.

Pamrih itu hanya membuat seseorang menjadi penakut, picik, menderita, menjenuhkan, bahkan dapat membuat orang menjadi hina.

Apalah artinya berpegang kepada kesementaraan, jika di alam baka kita dicambuk derita ?!

PADHANG ING PETHENG

” … Wosipun inggih punika ngupadosi padhang ing peteng; seneng ing sengsara, tunggaling sewu yuta … “

Artinya, “Yang jelas adalah mencari terang di dalam gelap; senang dalam kesengsaraan, ribuan juta contohnya.”

Apa saja yang ada di dunia ini relatif. Di bumi ini selalu ada dualisme, seperti padhang-peteng; seneng-sengsara; sehat-sakit; hujan-panas dan lain sebagainya. Demikianlah yang namanya kehidupan. Peteng terus itu tidak ada. Padhang terus juga tidak ada. Seneng terus itu juga tidak ada. Sengsara terus itupun tidak ada. Oleh karena itu, yang bertentangan itu dibutuhkan dalam kehidupan ini. Dengan adanya panjang, kita tahu pendek; dengan adanya sakit, kita bisa merasakan sehat.



Dengan mengetahui baik, maka kita tahu apa itu buruk.
Hujan dan panas, keduanya dibutuhkan dalam kehidupan ini. Kalau orang tidak mau peteng dan selalu ingin yang padhang saja, apa jadinya dunia ini? Kapan kita istirahat, kapan kita tidur? Kalau peteng terus, apa saja yang semula tumbuh pasti mati. Sebab tidak terkena sinarnya matahari. Kalau panas terus, bumi ini akan kering kerontang, kematian akan tersebar di muka bumi.

Kalau hujan terus, pasti terjadi banjir di mana-mana. Daratan akan tenggelam, kelaparan melanda dunia disertai kematian umat manusia. Dimana-mana yang ada cuma air! Apa jadinya bumi ini?

Senang dan sengsara harus diterima seperti apa adanya, karena kedua-duanya membawa manfaat dan didalamnya ada hikmah yang tersembunyi. Janganlah kita terikat atau terbelenggu oleh senang dan susah. Jika kesengsaraan datang, terimalah. Jika kesenangan datang, sambutlah. Mengapa? Supaya hidup ini dapat dijalani dengan tenang.

Di manapun anda temukan kegelapan, maka terangilah. Di manapun anda temukan kesengsaraan, maka berilah kesenangan. Janganlah berhenti melakukan tugas itu, karena berjuta-juta yang membutuhkan cahaya terang dan sinar kebahagiaan.

CATUR MURTI

Catur itu empat, sedangkan Murti itu penjelmaan. Jadi yang dimaksudkan adalah empat yang dijelmakan menjadi satu. Menurut Aksan, Catur Murti adalah bersatunya empat faal, yaitu pikiran, perasaan, perkataan dan perbuatan.

Berawal dari keinginan atau kehendak (perasaan), itulah yang menyebabkan berpikir dan tindak lanjutnya adalah berkata, terakhir berbuat. Pikiranlah yang mendorong kita untuk berkata maupun berbuat. Sekarang tergantung kepada pikirannya. Kalau pikirannya baik/benar, maka akan mengeluarkan kata-kata yang baik/benar. Kalau pikirannya baik/benar, akan mendorong untuk berbuat baik/benar. Jika pikirannya jahat/tidak benar, akan mendorong orang untuk berkata yang jahat dan berbuat jahat.

Kebencian jangan diberi kesempatan untuk merajalela di alam pikiran kita. Kita harus menjinakkan kebencian yang ada di dalam pikiran kita, kemudian kita pudarkan atau kita kecilkan, agar pikiran jahat itu dapat kita hilangkan. Kalau sudah begitu, jangan diingat-ingat lagi orang yang pernah membuat anda jadi benci. Kata-katanya, perilakunya, jangan diingat lagi. Dengan berjalannya waktu, anda akan melupakan itu semuanya. Berterima kasihlah kepada Tuhan, karena anda dikaruniai sifat lupa, kalau anda tidak diberi lupa, maka anda akan ingat segala-galanya, apakah anda tidak bertambah pusing?

Ada kalanya kita menggunakan pikiran yang baik, namun masih dianggap kurang cukup. Menggunakan perasaan yang baik pun masih ada kekurangannya.

Sebagai contoh : Anda sedang berjalan dengan seorang teman. Kebetulan teman itu tidak punya uang sama sekali. Dan sama-sama lapar, tetapi uang anda hanya Rp 2000. Anda mampir di warung, nasi satu piring Rp 2000. jadi yang makan hanya anda sendiri. Sebab, uang itu adalah uang anda sendiri dan anda sangat lapar. Teman anda menunggu sambil berdiri, di luar warung. Sampai hatikah anda berbuat begitu?

Contoh lainnya : Uang Rp 2000 anda berikan kepada teman anda, teman anda yang makan. Anda hanya duduk saja di dalam warung, sambil mengamati teman anda yang sedang menikmati makanannya.

Pada contoh yang pertama, anda egoistis. Sekalipun berpikir benar. Pada contoh yang kedua, anda adalah orang gila yang baik hati. Sekalipun berperasaan benar. Nah, coba anda mencari makanan yang harganya Rp 1000 saja. Anda dan teman anda sama-sama dapat makan. Anda makan tidak kenyang, tetapi sudah makan. Teman anda tidak kelaparan. Jadi sebelum anda berbuat, pikiran yang benar harus diselaraskan dengan perasaan yang benar. Artinya, ada unsur penyelarasan. Dengan begitu, dalam konteks tersebut, perbuatan anda adalah “Perbuatan benar”.

Dengan demikian, Catur Murti itu merupakan kesatuan, tidak boleh dipisahkan, jangan ambil protholannya saja, ambillah kesatuannya, keseluruhannya. itu baru namanya Catur Murti. Selain itu, Catur Murti bukan hanya sekedar dihafalkan, tapi harus dihayati dan diamalkan. Berlatih Catur murti tanpa berhenti, baru ada manfaatnya. Sehingga menyatu dengan jiwa kita, sehingga kita terbiasakan untuk berpikir benar, berperasaan benar, berkata benar dan berbuat benar. Dalam situai dan kondisi apapun reaksi kita jadi cepat dan dalam mengambil keputusan bisa dengan tepat dan benar.

Tuhan telah memberi kita 2 buah mata, 2 buah telinga dan 1 mulut. 2 buah mata, artinya banyak-banyaklah melihat. 2 buah telinga, artinya banyak-banyaklah mendengar. 1 buah mulut, kalau tidak perlu sebaiknya ditutup. Sebab mulut adalah pintu gerbang yang mendatangkan bahaya.

Benci (kebencian)
Hidup ini jadi tegang dan gelisah. Kebencian dapat melahirkan dendam. Dendam dapat melahirkan ketidaktenangan. Gelisah dan gundah gulana itu juga akibat dari sebuah kebencian.

Serakah
Keserakahan menyebabkan hati kita tertutup. Hati yang tertutup tidak dapat melihat kepentingan orang lain, tidak dapat merasakan penderitaan orang lain. Yang dipikirkan hanya kepentingan, kesenangan dan keselamatan dirinya sendiri.

Iri Hati
Orang yang iri hati selalu merasa tidak senang, jika orang lain senang. Ia tidak merasa bahagia kalau orang lain bahagia. Ia merasa kecil hati melihat orang lain sukses. Orang yang iri hati itu hatinya kerdil, karena ia tidak mau menerima kenyataan dengan lapang dada atau mengakui kesuksesan orang lain, kegembiraan orang lain, kebahagiaan orang lain. Orang iri hati cepat sekali untuk memfitnah orang, menggunjing atau menjelekkan orang lain yang sukses.

Fitnah
Selama kita benar, jangan takut terhadap fitnah. Kalau kita tak berbuat yang neko-neko, kita merasa benar, tak perlu memikirkan fitnah itu. Biarkan saja, diamkan saja dan hadapi dengan kesabaran.

Bodoh (kebodohan)
Bilamana kita sedang marah, sedang membenci, sedang iri hati, sedang serakah, pada saat itu kita dalam keadaan bodoh, yang artinya tidak punya kemampuan untuk mengendalikan diri/lepas kontrol. Saat itu pikiran kita jadi gelap, tidak sadar, tidak bijaksana, kita jadi bodoh (tidak seperti biasanya, cerdas, bijaksana). Karena bodoh, ada kemungkinan kita memukul atau membunuh tanpa kesadaran. Melakukan hal-hal membahayakan untuk diri sendiri dan orang lain, dan kita pun menderita lahir batin. Kita baru sadar, setelah itu semua terjadi. Kesadaran yang datangnya terlambat.

Mutiara-mutiara

Kepustakaan

• Indy G. Hakim, Tafsir Surat-surat & Mutiara-mutiara Drs. R.M.P. Sosrokartono, (Pustaka Kaona, April 2008)

• Pa’ Roesno, Karena Panggilan Ibu Sejati : Riwayat Hidup dari Drs. R.M.P. Sosrokartono, (Djakarta : 1954)

• Panitya Buku Riwayat Drs. R.M.P. Sosrokartono, Kempalan Serat-serat : Drs. Sosrokartono, (Surabaya : Panitya Buku Riwayat Drs. R.M.P. Sosrokartono, 1992)

• Serat Saking Medan, 12 Mei 1931 dalam Suxmantojo, Kempalan Serat-serat Drs. R.M.P. Sosrokartono

• Serat Saking Binjei, 5 Juli 1931

• Serat Saking Binjei, 9 Juli 1931

• Serat Saking Tanjung Pura (Langkat), 26 Oct. 1931

• Serat Saking Tanjung Pura, 11 Oct. 1931

• Djoko Pring, “Aji Pring”, (Binjei, 12 Nov. 1931)

• Djoko Pring, Omong Kosong, (Binjei, 12 Nov. 1931)

• R. Mohammad Ali, Ilmu Kantong Bolong, Ilmu Kantong Kosong, Ilmu Sunji Drs. R.M.P. Sosrokartono
• Djoko Pring, Lampah lan Maksudipun, (Binjei 12 Nov. 1931)

Ditulis dalam AJARAN R.M.P SOSRO KARTONO Mas Kumitir

Minggu, 10 Juli 2011

SEJARAH AGAMA TAO

Agama Tao merupakan Agama yang berasal dari Tiongkok. Dari data-data yang ada, maka Agama Tao termasuk agama yang tertua di dunia ini, umumnya diakui sudah ada sejak 7000 tahun yang silam, dan juga merupakan agama yang dianut oleh sebagian besar orang Tionghoa, ini tercermin dari tulisan LU XUN seorang budayawan kondang, dimana beliau menulis bahwa Agama Tao adalah agama dan akar utama dari kebudayaan Tionghoa.

Umumnya Agama Tao diyakini : Berasal dari Kaisar Kuning (Wang Di), dikembangkan oleh Lao Zi dan terorganisasi menjadi sebuah institusi Keagamaan (Agama Tao) yang lengkap oleh Zhang Tao Ling.

Agama Tao selain telah berjasa dalam menjaga keharmonisan hidup bermasyarakat di Tiongkok selama beribu-ribu tahun. Juga telah memberikan banyak sumbangan terhadap kemajuan sastra, budaya, ilmu astronomi, ilmu pengobatan, filsafat dan cara berpikir masyarakat Tionghoa dimanapun mereka berada.

Pada jaman FU XI sekitar tahun 5000 SM, FU XI telah menggunakan teori dan perhitungan BA-KUA (Delapan Penjuru) untuk menjelaskan tentang sistem Astronomi, menentukan hal-hal yang penting yang berhubungan dengan ramalan kehidupan seseorang, serta menentukan cara-cara ritual penyembahan Dewa/Dewi.

Sampai pada jamannya WANG DI (Kaisar Kuning) 2698 SM, mulai dikemukakan teori tentang kaidah-kaidah alamiah dan teori tentang masalah kehidupan dan kematian. WANG DI juga merupakan tokoh yang pertama menjalankan pemerintahannya berdasarkan ajaran TAO ().

Sejak WANG DI sampai 1500 tahun berikutnya, setiap pemimpin yang menggantikan pemimpin lainnya selalu memerintah masyarakatnya dengan teori ajaran WANG DI, antara lain : Menghormati TIAN dan menjunjung tinggi Sopan-santun dalam bermasyarakat (WANG DI ZHI TAO / Filsafat ajaran WANG DI).

Pada jaman Dinasti Kerajaan Chow, muncul seorang bijaksana yang mempunyai nama besar yaitu LAO ZI. Beliau pernah bertugas sebagai pejabat yang menjaga dan merawat perpustakaan buku-buku yang dimiliki kerajaan Chow. Karena itu beliau mempunyai kesempatan untuk membaca semua buku-buku dan menguasai teori-teori yang diajarkan oleh WANG DI.

Ini membuat beliau sangat menyanjung keagungan alam yang telah menghidupi semua makhluk hidup, termasuk manusia, namun beliau juga mengajarkan bahwa dibalik semuanya itu pasti ada yang menciptakannya yang bersifat maha Agung; maha Mulia dan maha Esa, hanya saja sulit bagi beliau untuk memberikan sebutan atau nama yang tepat bagi Pencipta Alam Semesta yang maha Besar ini.

Akhirnya LAO ZI meminjam kata "TAO" (), untuk memberi nama bagi "SUMBER" dari segala sesuatu yang tercipta di alam semesta ini. Menurut LAO ZI; TAO adalah sumber terciptanya segala sesuatu yang ada dalam alam semesta ini. Cara berpikir beliau jauh melampaui jamannya ketika itu, ditambah ajaran-ajarannya yang menjunjung tinggi kebajikan dan menentang kebiadaban, maka akhirnya ajaran LAO ZI bersama-sama ajaran WANG DI dikenal orang sebagai Ajaran WANG-LAO (WANG-LAO TAO / Filsafat ajaran Wang Di dan Lao Zi) sampai sekarang.

Ajaran Wang-Lao (Wang-Lao Tao) ini makin berkembang dan mengakar di hati masyarakat, akhirnya dianut oleh hampir setiap orang terpelajar dan cendekiawan jaman itu, salah satunya adalah CHUANG ZI.

Pemujaan terhadap LAO ZI sudah dimulai sejak jaman Dinasti JIN HAN, saat itu kegiatan keagamaan dan upacara ritual keagamaan sudah berkembang sedemikian lengkapnya. Pada jaman Han Barat, masyarakat hidup makmur dan sentosa berkat semua pemimpin kerajaan menganut dan menjalankan ajaran WANG-LAO TAO.

Sampailah pada jaman Han Timur (Tong Han), ada seorang bernama Zhang Tao Ling yang dengan sungguh-sungguh mempelajari semua ajaran TAO dan ilmu keDewaan, beliau juga berhasil membuat pemilahan-pemilahan dan menyusun peraturan-peraturan tentang cara-cara upacara ke Agamaan TAO, mengajarkan cara-cara bagaimana seharusnya menggambar HU dan menuliskannya dalam buku-buku yang baku untuk kepentingan pengajaran kepada pengikut-penganutnya.

Sehingga terbentuklah sebuah organisasi kemasyarakatan yang berbasis Agama TAO yang pertama sejak itu. Selanjutnya semua kegiatan keagamaannya selalu secara resmi menggunakan nama AGAMA TAO. Pengikut-pengikutnya disebut sebagai umat TAO (TAO SHI).

Zhang Tao Ling juga menggunakan nama lain, selain Agama Tao, yaitu Thian Zhi TAO dan terutama aktif di daerah Si Chuan, penerusnya juga menyebarkan agama TAO di daerah Jiang Si di daerah Long Hu San / Gunung Naga Harimau, sebelah selatan dari sungai Zhang Jiang.

Sejak itu Agama TAO selalu mengajarkan umatnya untuk memupuk dan mempunyai sifat-sifat yang Jujur, Tulus dan Welas Asih, serta tidak boleh menyakiti orang lain.

Orang kalau sakit atau bersalah, bila ingin sembuh dan minta pertolongan di dalam Agama TAO, maka diharuskan pertama kali untuk mengakui kesalahannya atau perbuatan tidak baiknya, baru kemudian diberi pengobatan ataupun nasehat bahkan diajak Semedi dan mawas diri untuk kesembuhan dirinya.

Agama TAO terutama mengajarkan sifat Qing Jing Wu Wei, suatu sifat dimana orang dianjurkan untuk selalu berusaha berbuat sesuatu demi kepentingan bersama, namun tetap menjaga sikap mental yang tulus tanpa pamrih!, selain itu juga selalu mawas diri dalam usahanya mengajak masyarakat supaya mampu menjaga keharmonisan kehidupan masing-masing. Sifat demikianlah yang antara lain ikut mendorong terbangunnya klenteng-klenteng yang bisa dipakai untuk menginap bagi orang-orang yang sedang bepergian jauh, serta menyediakan makanan cuma-cuma bagi yang menginap di sana, ini semua bertujuan untuk melayani dan memudahkan masyarakat pada jamannya, sehingga sangat mendapat dukungan dari segala lapisan masyarakat.

Pada jaman Dinasti DHANG, Agama TAO berkembang pesat sekali, sehingga raja pun menetapkan adanya pejabat khusus setingkat Menteri untuk mengurusi semua persoalan yang berhubungan dengan Tao Kuan dan Klenteng-klenteng yang ada pada saat itu.

Selain itu juga setiap tahun diadakan semacam ujian untuk mengangkat orang-orang yang ahli dalam pengetahuan tentang Tao (Istilahnya XIAN SIEK POK SHI = Profesor Keagamaan dalam Agama Tao), sebagai penasehat resmi kerajaan.

Keadaan ini berkembang terus sampai jaman Dinasti SONG, umumnya raja-raja dan keluarga raja semuanya menganut Agama Tao, sehingga boleh dikatakan merupakan jaman keemasan bagi Agama TAO saat itu. Sejarah mencatat bahwa jaman Dinasti DHANG dan Dinasti SONG, banyak menghasilkan Tao Shi (Pendeta / Ahli Agama TAO) yang sangat bijaksana dan mumpuni, dimana cerita mereka itu banyak bisa dijumpai dalam buku-buku yang menulis tentang Agama TAO.

Pada jaman Dinasti CIN, di Tiongkok utara lahirlah 3 aliran Agama TAO yang baru yaitu : Aliran QUAN ZHEN; Aliran ZHEN DA; Aliran DAI YI. Diantara 3 aliran itu, QUAN ZHEN TAO JIAO (Agama TAO aliran QUAN ZHEN) berkembang paling pesat dan mempunyai pengaruh yang sangat luas.

Dari QUAN ZHEN TAO JIAO lah muncul seorang tokoh yang bernama JIU JU CIE, beliaulah yang pada jaman Dinasti YUAN, berhasil mempengaruhi dan mengajak Raja YUAN yaitu JENGIS KHAN, untuk menerima dan percaya kepada ajaran Agama TAO.

Pada akhir jaman Dinasti YUAN, popularitas Agama TAO mulai menurun di kalangan keluarga kerajaan, sehingga terjadilah peristiwa pembakaran buku-buku Agama TAO, hal ini tentu sangat merugikan citra dan menimbulkan kemarahan umat Agama TAO dikemudian hari.

Keadaan ini dimanfaatkan oleh CU YUAN CHANG untuk bisa segera memperoleh dukungan masyarakat dalam usahanya manggulingkan Dinasti YUAN dan mendirikan Dinasti MING.

Setelah CU YUAN CHANG berhasil memanfaatkan umat Agama TAO dalam mendirikan kerajaan MING, beliau sangat mengetahui bahwa Agama TAO sangat menjunjung tinggi sifat Kebajikan dan Kebebasan serta sangat Anti Kediktatoran (karena kediktatoran sangat bertentangan dengan sifat alamiah), hal ini sangat ditakuti oleh CU YUAN CHANG, sebab beliau sebetulnya lebih suka menjalankan kekuasaannya secara Tirani.

Maka di depan umum Cu Yuan Chang kelihatan sangat mendukung berkembangnya Agama TAO, namun secara diam-diam beliau berusaha melakukan segala cara untuk menekan Agama TAO, ini terbukti karena Cu Yuan Chang akhirnya hanya mengijinkan Agama TAO untuk menyebarkan ajaran tentang cara-cara / upacara menyembah Dewa / Dewi serta cerita-cerita tentang Ilmu pengetahuan KeDewaan, tapi sama sekali dilarang untuk mengajarkan filsafat dan ilmu pengetahuan dari Agama TAO yang lebih dalam. Hal ini tentu sangat memukul perkembangan Agama TAO, dan memicu berkembangnya dampak negatif bagi citra Agama TAO dikemudian hari.

Ketika kerajaan MAN QING menjajah Tiongkok dan mendirikan Kerajaan QING, sebagai penjajah mereka sangat takut terhadap ajaran Agama TAO yang sangat bersifat Kerakyatan dan menjunjung Kebijakan dan Kebebasan serta anti Kediktatoran.

Sehingga mereka juga melarang usaha penyebaran ajaran filsafat dan ilmu pengetahuan Agama TAO yang sebenarnya, namun sengaja membiarkan orang-orang yang mengatasnamakan Agama TAO untuk menonjolkan Ketahyulan, berkeliaran utnuk menyebarkan kesesatan diantara anggota masyarakat dengan tujuan memfitnah Agama TAO, orang yang demikian itu biasanya disebut Wu Bo (Dukun Perempuan) ataupun Shen Han (Dukun Pria).

Karenanya sejak itu, citra Agama TAO menjadi sangat jelek dan ketinggalan jaman, dampaknya terasa sampai kurun waktu yang lama sekali, sekarang ini masih ada sebagian orang terpelajar, yang karena belum mengerti apa sebenarnya Agama TAO, dengan mudahnya meremehkan AgamaTAO sebagai Agama yang bersifat tahyul dan ketinggalan jaman, sebab pada dasarnya mereka belum bisa membedakan antara Tao Shi dengan dukun.

Syukurlah sesuai dengan kemajuan jaman, akhir-akhir ini semua sudah mulai berubah ke arah yang positif, para umat penganut Agama TAO mulai menyadari kesalahan sikap diamnya selama ini, sehingga dimana-mana umat TAO mulai membenahi diri dan dengan gigih menyebarkan ajaran Agama TAO yang sebenarnya, walaupun masih harus menghadapi banyak kendala di lapangan.

Di luar Tiongkok dan Taiwan, ada beberapa negara yang umat Agama TAO nya sangat aktif dan berkembang antara lain: Singapore (Taoist Federation Singapore), Korea, Jepang, Philipina, Malaysia, Thailand, Vietnam, Indonesia, dll.

SALAM API PANCASILA.....MERDEKA!!!

Selasa, 05 Juli 2011

Amanat Bung Karno : HUT Bhayangkara

Hubungan yang terkait antara Polri dengan Gajah Mada tak terlepas dari dimensi sejarah terbentuknya Catur Prasetya sejak tanggal 1 Juli 1960 melalui amanat Presiden Soekarno dalam menyambut Dies Natalis PTIK ke X tanggal 17 Juni 1956 di PTIK, Jl. Tambak 2 Jakarta Pusat.

Dies Natalis PTIK saat itu antara lain dihadiri oleh Perdana Menteri Juanda, Kepala Kepolisian Negara yang saat itu dijabat oleh R.S. Sukanto Tjokrodiatmodjo, Ketua Dewan Guru Besar Profesor Djokosutono dan Ketua Dewan Kurator Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Saat itu, kebetulan Bapak Wik Djatmika (staf pengajar S1 di PTIK) berdiri persis di belakang Presiden bersama ajudan Presiden, Letkol Sugandi. Menurut catatannya pada saat itu sebagai berikut:

“Tiba giliran Presiden untuk memberikan amanatnya, beliau naik di podium menuju mimbar yang telah tersedia. Sebelum memulai pidatonya, Presiden mengenakan kaca mata hitam melihat ke seluruh ruangan aula dan lukisan para pahlawan yang terpancang di tiang-tiang aula. Setelah menyampaikan salam kepada para hadirin kemudian, sambil melepaskan kacamata hitamnya, beliau berucap dengan nada pertanyaan: “Mengapa di ruang ini tidak terpancang gambar Mahapatih Gajah Mada? Padahal Gajah Mada patut menjadi panutan Kepolisian Negara, dia adalah pemimpin pasukan Bhayangkara, yang selalu setia kepada Negara dan rajanya, siap selalu menumpas musuh Negara, pekerja keras, rame ing gawe, dan tidak ada pamrih sedikitpun untuk kepentingan pribadi.

Pemberontakan demi pemberontakan dia tumpas, mengawal raja dengan kesungguhan. Dia menyerukan kepada anak buahnya kewajiban seorang Bhayangkara adalah ‘Satya Haprabhu’ setia kepada Negara dan pimpinannya, ‘Hanayaken Musuh’ mengenyahkan musuh Negara dan musuh masyarakat, ‘Gineung Pratidina’ kerja keras, rame ing gawe, ‘tan Satrisna’ tidak terikat kepada sesuatu, sepi ing pamrih. Itulah Catur Prasatya (seperti biasanya pidato Presiden Soekarno berkobar-kobar).”

Empat tahun kemudian setelah amanat Presiden yang sangat berapi-api itu, pada tahun 1960, diadakan konferensi kerja para KPKOM (Kepala Kepolisian Komisariat) di Yogyakarta. Salah satu acaranya adalah membahas Catur Prasatya sesuai amanat Presiden pada Dies Natalis PTIK ke X tahun 1956. Rapat memutuskan ditetapkannya Catur Prasatya sebagai ‘pedoman karya’. Sebelumnya pada 1 Juli 1955 telah ditetapkan Tribrata sebagai ‘pedoman hidup’.

‘Kelahiran’ Catur Prasetya pada tahun 1960, dan kemudian divalidasi pada tahun 2004, secara empiris telah memberikan garis yang begitu kuat terhadap hubungan filsafati antara Polri dan Bhayangkara produk Majapahit yang juga telah ‘divalidasi’ oleh Gajah Mada lebih enam ratus tahun lalu.

Bhayangkara sebagai institusi polisi saat itu ternyata memiliki bentuk yang sangat mirip dengan perjalanan sejarah Kepolisian Negara Republik Indonesia sejak secara resmi dibentuk setelah Kemerdekaan Indonesia.

Catur Prasetya, tidak dapat dipungkiri telah secara signifikan membawa Polri menjadi Bhayangkara abad ini.

Karena Catur Prasetya adalah muatan 4 sifat Gajah Mada yang tertulis di naskah agung Nagarakretagama karya Rakawi Prapanca, dan Catur Prasetya merupakan soko guru Polri sebagai paradigma moral, sudah sepatutnya Polri mempunyai tanggungjawab moral melakukan pendekatan dan concerning yang sangat tinggi terhadap sosok Gajah Mada.

Sebagai tokoh sejarah, Gajah Mada memiliki kekuatan intelektual, spiritual, metafisis dan filsafati yang sangat tinggi bagi bangsa ini.

Karena Polri mempunyai benang merah yang sangat kuat dengan Bapak Bhayangkara ini sudah sepatutnya melakukan research, hipotesis bahkan analisis yang cukup serius terhadap karakteristik, perilaku, gagasan dan pemikiran-pemikiran Gajah Mada sehubungan dengan perkembangan Polri ke depan.

Sebagai konseptor terhadap pembentukan Negara berdaulat yang menyatukan seluruh kepulauan Nusantara Raya, Gajah Mada telah menetapkan warisan kebijakan yang begitu tinggi terhadap kemajuan bangsa secara futuristik.

Dan, secara tidak langsung, Gajah Mada telah memberikan arti yang sangat luas terhadap konsepsi pertahanan dan keamanan yang di kemudian hari dimiiki bangsa ini melalui UUD 45 Bab Pertahanan Negara yang kemudian mengalami perubahan menjadi Bab Pertahanan dan Keamanan Negara yang tertuang pada pasal 30 ayat (1) sampai dengan ayat (5), dan secara rinci diatur dalam UU Nomor 2 tahun 2002 serta UU Nomor 3 tahun 2002 telah memberikan ketegasan perbedaan kedudukan Polri dan TNI.

Pada zamannya, Gajah Mada dengan tegas telah memisahkan kedudukan Bhayangkara dengan Samatya Bala (Angkatan Darat) dan Jaladi Bala (Angkatan Laut). Benang merah inilah yang secara kohesif memberikan muatan strategis terhadap konsepsi pertahanan dan keamanan Negara saat ini.

Bagi Polri, konsepsi ini merupakan bangunan yang sangat konstruktif terhadap dimensi kesejarahan yang saling bersambung sejak zaman pra kemerdekaan sampai hari ini dan masa mendatang. Ternyata konsepsi dan gagasan Gajah Mada secara sustainable masih memiiki ruang yang sangat luas dan akseptable digunakan atau dimodifikasi oleh Polri saat ini sesuai tuntutan zaman di Negara tercinta ini berhadapan dengan era globaisasi dan percepatan teknologi informasi di dunia saat ini.

Melalui semangat Catur Prasetya, Gajah Mada menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan seluruh konsepsi, kinerja dan karakteristik Kepolisian Negara Republik Indonesia yang sangat menjunjung tinggi amanat dasar Negara Pancasila dan UUD 45 sebagai landasan konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Salam Nusantara..!

KEJAYAAN SRIVIJAYA

Dalam bahasa Sansekertasri berarti “bercahaya” danwijaya berarti “kemenangan”. Bukti awal mengenai keberadaan kerajaan ini berasal dari abad ke-7; seorang pendeta Tiongkok I-tsing menulis bahwa ia mengunjungi Sriwijaya tahun 671 dan tinggal selama 6 bulan. Prasasti paling tua mengenai Sriwijaya juga berada pada abad ke-7 yaitu Prasasti Kedukan Bukit di Palembang bertarikh 682.

Sriwijaya (Srivijaya) adl kerajaan maritim yg kuat di pulau Sumatera dan berpengaruh di Nusantara daerah kekuasaan Sriwijaya meliputi Kamboja Thailand Semenanjung Malaya Sumatera Jawa Kalimantan dan Sulawesi.

Kemunduran pengaruh Sriwijaya terhadap daerah bawahan mulai menyusut dikarenakan beberapa peperangandiantara serangan dari raja Dharmawangsa dari Jawa ditahun 990 dan tahun 1025 serangan Rajendra Coladewa dari Koromandel selanjut tahun 1183 Sriwijaya dibawah kendali kerajaan Dharmasraya. Dan di akhir masa kerajaan ini takluk di bawah kerajaan Majapahit.

Sriwijaya menjadi simbol kebesaran Sumatera awal dan kerajaan besar Nusantara selain Majapahit di Jawa Timur. Pada abad ke-20 kedua kerajaan tersebut menjadi referensi olehkaum nasionalis utk menunjukkan bahwa Indonesia merupakan satu kesatuan negara sebelelum kolonialisme Belanda.

Sriwijaya disebut dgn berbagai macam nama. Orang Tionghoa menyebut Shih-li-fo-shih atau San-fo-ts’i atau San Fo Qi. Dalam bahasa Sansekerta dan Pali kerajaan Sriwijaya disebut Yavadesh dan Javadeh. Bangsa Arab menyebut Zabaj dan Khmer menyebut Malayu.Sementara dari peta Ptolemaeus ditemukan keterangan tentang ada 3 pulau Sabadeibei yg berkaitan dgn Sriwijaya.

Eksistensi Sriwijaya diketahui secara resmi tahun 1918 oleh sejarawan Perancis George Cœdès dari École française d’Extrême-Orient. Sekitar tahun 1992 hingga 1993 Pierre-Yves Manguin membuktikan bahwa pusat Sriwijaya berada di Sungai Musi antara Bukit Seguntang dan Sabokingking (terletak di provinsi Sumatra Selatan Indonesia). Namun Soekmono berpendapat bahwa pusat Sriwijaya terletak di provinsi Jambi sekarang yaitu pada kawasan sehiliran Batang Hari antara Muara Sabak sampai ke Muara Tembesi.

Pembentukan dan Pertumbuhan Kerajaaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya menjadi pusat perdagangan dan merupakan negara maritim. Negara ini tak memperluas kekuasaan diluar wilayah kepulauan Asia Tenggara dgn pengecualian berkontribusi utk populasi Madagaskar sejauh 3.300 mil di barat. Sekitar tahun 500 akar Sriwijaya mulai berkembang di wilayah sekitar Palembang Sumatera. Kerajaan ini terdiri atas tiga zona utama daerah ibukota muara yg berpusatkan Palembang lembah Sungai Musi yg berfungsi sebagai daerah pendukung dan daerah-daerah muara saingan yg mampu menjadi pusat kekuasan saingan. Wilayah hulu sungai Musi kaya akan berbagai komoditas yg berharga utk pedagang Tiongkok Ibukota diperintah secara langsung oleh penguasa sementara daerah pendukung tetap diperintah oleh datu setempat.

Ekspansi kerajaan ini ke Jawa dan Semenanjung Malaya menjadikan Sriwijaya mengontrol dua pusat perdagangan utama di Asia Tenggara. Berdasarkan observasi ditemukan reruntuhan candi-candi Sriwijaya di Thailand dan Kamboja. Di abad ke-7 pelabuhan Cham di sebelah timur Indochina mulai mengalihkan banyak pedagang dari Sriwijaya. Untuk mencegah hal tersebut Maharaja Dharmasetu melancarkan beberapa serangan ke kota-kota pantai di Indochina. Kota Indrapura di tepi sungai Mekong di awal abad ke-8 berada di bawah kendali Sriwijaya. Sriwijaya meneruskan dominasi atas Kamboja sampai raja Khmer Jayawarman II pendiri imperium Khmer memutuskan hubungan dgn kerajaan di abad yg sama.

DariPrasasti Kedukan Bukit pada tahun 682 di bawah kepemimpinan Dapunta Hyang Jayanasa Kerajaan Minanga takluk di bawah imperium Sriwijaya. Penguasaan atas Malayu yg kaya emas telah meningkatkan prestise kerajaan.

BerdasarkanPrasasti Kota Kapur yg yg berangka tahun 682 dan ditemukan di pulau Bangka Pada akhir abad ke-7 kemaharajaan ini telah menguasai bagian selatan Sumatera pulau Bangka dan Belitung hingga Lampung. Prasasti ini juga menyebutkan bahwa Jayanasa telah melancarkan ekspedisi militer utk menghukum Bhumi Jawa yg tak berbakti kepada Sriwijaya peristiwa ini bersamaan dgn runtuh Tarumanagara di Jawa Barat dan Holing (Kalingga) di Jawa Tengah yg kemungkinan besar akibat serangan Sriwijaya. Sriwijaya tumbuh dan berhasil mengendalikan jalur perdagangan maritim di Selat Malaka Selat Sunda Laut China Selatan Laut Jawa dan Selat Karimata.

Abad ke-7 orang Tionghoa mencatat bahwa terdapat dua kerajaan di Sumatera yaitu Malayu dan Kedah dan tiga kerajaan di Jawa menjadi bagian kemaharajaan Sriwijaya. Di akhir abad ke-8 beberapa kerajaan di Jawa antara lain Tarumanegara dan Holing berada di bawah kekuasaan Sriwijaya. Menurut catatan pada masa ini pula wangsa Melayu-Budha Sailendra bermigrasi ke Jawa Tengah dan berkuasa disana. Di abad ini pula Langkasuka di semenanjung Melayu menjadi bagian kerajaan. Di masa berikut Pan Pan dan Trambralinga yg terletak di sebelah utara Langkasuka juga berada di bawah pengaruh Sriwijaya. Di abad ke-9 wilayah kemaharajaan Sriwijaya meliputi Sumatera Sri Lanka Semenanjung Malaya Jawa Barat Sulawesi Maluku Kalimantan dan Filipina. Dengan penguasaan tersebut kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan maritim yg hebat hingga abad ke-13.

Setelah Dharmasetu Samaratungga menjadi penerus kerajaan. Ia berkuasa pada periode 792 sampai 835. Tidak seperti Dharmasetu yg ekspansionis Samaratungga tak melakukan ekspansi militer tetapi lbh memilih utk memperkuat penguasaan Sriwijaya di Jawa. Selama masa kepemimpinan ia membangun candi Borobudur di Jawa Tengah yg selesai pada tahun 825.

Budha Vajrayana di Kerajaan Sriwijaya

Sebagaipusat pengajaran Budha Vajrayana Sriwijaya menarik banyak peziarah dan sarjana dari negara-negara di Asia. Antara lain pendeta dari Tiongkok I-tsing yg melakukan kunjungan ke Sumatera dalam perjalanan studi di Universitas Nalanda India pada tahun 671 dan 695 serta di abad ke-11 Atisha seorang sarjana Budha asal Benggala yg berperan dalam mengembangkan Budha Vajrayana di Tibet. I-tsing melaporkan bahwa Sriwijaya menjadi rumah bagi ribuan sarjana Budha sehingga menjadi pusat pembelajaran agama Buddha. Pengunjung yg datang ke pulau ini menyebutkan bahwa koin emas telah digunakan di pesisir kerajaan. Ajaran Buddha aliran Buddha Hinayana dan Buddha Mahayana juga turut berkembang di Sriwijaya.

Relasi Kerajaan Sriwijaya dgn Kekuatan Regional

Dari catatan sejarah danbukti arkeologi dinyatakan bahwa pada abad ke-9 Sriwijaya telah melakukan kolonisasi di hampir seluruh kerajaan-kerajaan Asia Tenggara antara lain Sumatera Jawa Semenanjung Malaya Kamboja dan Vietnam Selatan . Dominasi atas Selat Malaka dan Selat Sunda menjadikan Sriwijaya sebagai pengendali rute perdagangan rempah dan perdagangan lokal yg mengenakan biaya atas tiap kapal yg lewat. Sriwijaya mengakumulasi kekayaan sebagai pelabuhan dan gudang perdagangan yg melayani pasar Tiongkok dan India.

Pada masa awalKerajaan Khmer juga menjadi daerah jajahan Sriwijaya. Banyak sejarawan mengklaim bahwa Chaiya di propinsi Surat Thani Thailand Selatan sebagai ibu kota terakhir kerajaan tersebut pengaruh Sriwijaya nampak pada bangunan pagoda Borom That yg bergaya Sriwijaya. Setelah kejatuhan Sriwijaya Chaiya terbagi menjadi tiga kota yakni (Mueang) Chaiya Thatong (Kanchanadit) dan Khirirat Nikhom.

Sriwijaya juga berhubungan dekat dgn kerajaan Pala di Benggala dan sebuah prasasti berangka 860 mencatat bahwa raja Balaputra mendedikasikan seorang biara kepada Universitas Nalada Pala. Relasi dgn dinasti Chola di India selatan cukup baik dan kemudian menjadi buruk setelah Rajendra Coladewa naik tahta dan melakukan penyerangan di abad ke-11.

Minanga merupakan kekuatan pertama yg menjadi pesaing Sriwijaya yg akhir dapat ditaklukkan pada abad ke-7. Kerajaan Melayu ini memiliki pertambangan emas sebagai sumber ekonomi dan kata Swarnnadwipa (pulau emas) mungkin merujuk pada hal ini. Dan kemudian Kedah juga takluk dan menjadi daerah bawahan.

Masa Kejayaan Kerajaan Sriwijaya

Pada paruh pertama abad ke-10 diantara kejatuhan dinasti Tang dan naik dinasti Song perdagangan dgn luar negeri cukup marak terutama Fujian kerajaan Min dan negeri kaya Guangdong kerajaan Nan Han. Tak diragukan lagi Sriwijaya mendapatkan keuntungan dari perdagangan ini. Pada tahun 903 penulis Muslim Ibnu Batutah sangat terkesan dgn kemakmuran Sriwijaya. Daerah urban kerajaan meliputi Palembang (khusus Bukit Seguntang) Muara Jambi dan Kedah. Di tahun 902 Sriwijaya mengirimkan upeti ke China. Dua tahun kemudian raja terakhir dinasti Tang menganugerahkan gelar kepada utusan Sriwijaya. Dari literatur Tiongkok utusan itu mempunyai nama Arab hal ini memberikan informasi bahwa pada masa-masa itu Sriwijaya sudah berhubungan dgn Arab yg memungkinkan Sriwijaya sudah masuk pengaruh Islam di dalam kerajaan.

Keruntuhan Kerajaan Sriwijaya

Rajendra Coladewa pada tahun 1025 raja Chola dari Koromandel India selatan menaklukkan Kedah dan merampas dari Sriwijaya. Kemudian Kerajaan Chola meneruskan penyerangan dan berhasil penaklukan Sriwijaya selama beberapa dekade berikut keseluruh imperium Sriwijaya berada dalam pengaruh Rajendra Coladewa. Meskipun demikian Rajendra Coladewa tetap memberikan peluang kepada raja-raja yg ditaklukan utk tetap berkuasa selama tetap tunduk kepadanya. Setelah invasi tersebut akhir mengakibatkan melemah hegemoni Sriwijaya dan kemudian beberapa daerah bawahan membentuk kerajaan sendiri dan kemudian muncul Kerajaan Dharmasraya sebagai kekuatan baru dan kemudian mencaplok kawasan semenanjung malaya dan sumatera termasuk Sriwijaya itu sendiri.



Istilah San-fo-tsi terutama pada tahun 1225 tak lagi identik dgn Sriwijaya melainkan telah identik dgn Dharmasraya dimana pusat pemerintahan dari San-fo-tsi telah berpindah jadi dari daftar 15 negeri bawahan San-fo-tsi tersebut merupakan daftar jajahan kerajaan Dharmasraya yg sebelum merupakan daerah bawahan dari Sriwijaya dan berbalik menguasai Sriwijaya beserta daerah jajahan lainnya.

Antara tahun 1079 - 1088 kronik Tionghoa masih mencatat bahwaSan-fo-ts’i masih mengirimkan utusan dari Jambi dan Palembang. Dalam berita Cina yg berjudul Sung Hui Yao disebutkan bahwa kerajaan San-fo-tsi pada tahun 1082 mengirim utusan dimana pada masa itu Cina di bawah pemerintahan Kaisar Yuan Fong. Duta besar tersebut menyampaikan surat dari raja Kien-pi bawahan San-fo-tsi yg merupakan surat dari putri raja yg diserahi urusan negara San-fo-tsi serta menyerahkan pula 227 tahil perhiasan rumbia dan 13 potong pakaian. Dan kemudian dilanjutkan dgn pengiriman utusan selanjut di tahun 1088.

Berdasarkan sumber Tiongkok pada buku Chu-fan-chi yg ditulis pada tahun 1178 Chou-Ju-Kua menerangkan bahwa di kepulauan Asia Tenggara terdapat dua kerajaan yg sangat kuat dan kaya yakni San-fo-ts’i dan Cho-po (Jawa). Di Jawa dia menemukan bahwa rakyat memeluk agama Budha dan Hindu sedangkan rakyat San-fo-ts’i memeluk Budha dan memiliki 15 daerah bawahan yg meliputi; Pong-fong (Pahang) Tong-ya-nong (Terengganu) Ling-ya-si-kia (Langkasuka) Kilantan (Kelantan) Fo-lo-an (muara sungai Dungun daerah Terengganu sekarang) Ji-lo-t’ing (Cherating pantai timur semenanjung malaya) Ts’ien-mai (Semawe pantai timur semenanjung malaya) Pa-t’a (Sungai Paka pantai timur semenanjung malaya) Tan-ma-ling (Tambralingga Ligor selatan Thailand) Kia-lo-hi (Grahi Chaiya sekarang selatan Thailand) Pa-lin-fong (Palembang) Kien-pi (Jambi) Sin-t’o (Sunda) Lan-wu-li (Lamuri di Aceh) and Si-lan (Kamboja).

DalamKidung Pamacangah dan Babad Arya Tabanan juga disebut ‘Arya Damar’ sebagai bupati Palembang yg berjasa membantu Gajah Mada dalam menaklukkan Bali pada tahun 1343 Prof. C.C. Berg menganggap identik dgn Adityawarman. Dan kemudian pada tahun 1347 Adityawarman memproklamirkan diri menjadi raja di Malayapura sesuai dgn manuskrip yg terdapat pada bagian belakang Arca Amoghapasa. Kemudian dari Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah yg kemungkinan ditulis sebelum pada tahun 1377 juga terdapat kata-kata bumi palimbang.

Pada tahun 1275 Singhasari penerus kerajaan Kediri di Jawa melakukan suatu ekspedisi dalam Pararaton disebut semacam ekspansi dan menaklukan bhumi malayu yg dikenal dgn nama Ekspedisi Pamalayu yg kemudian Kertanagara raja Singhasari menghadiahkan Arca Amoghapasa kepada Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa raja Melayu di Dharmasraya seperti yg tersebut dalam Prasasti Padang Roco. Dan selanjut pada tahun 1293 muncul Majapahit sebagai pengganti Singhasari dan setelah Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi naik tahta memberikan tanggung jawab kepada Adityawarman seorang peranakan Melayu dan Jawa utk kembali menaklukkan Swarnnabhumi pada tahun 1339. Dan dimasa itu nama Sriwijaya sudah tak ada disebut lagi tapi telah diganti dgn nama Palembang hal ini sesuai dgn Nagarakretagama yg menguraikan tentang daerah jajahan Majapahit.

Perdagangan Kerjaaan Sriwijaya

Dalam perdagangan Sriwijaya menjadi pengendali jalur perdagangan antara India dan Tiongkok yakni dgn penguasaan atas selat Malaka dan selat Sunda. Orang Arab mencatat bahwa Sriwijaya memiliki aneka komoditi seperti kamper kayu gaharu cengkeh pala kepulaga gading emas dan timah yg membuat raja Sriwijaya sekaya raja-raja di India. Kekayaan yg melimpah ini telah memungkinkan Sriwijaya membeli kesetiaan dari vassal-vassal di seluruh Asia Tenggara.

Pengaruh Budaya dan Agama Islam

Kerajaan Sriwijaya banyak dipengaruhi budaya India pertama oleh budaya Hindu dan kemudian diikuti pula oleh agama Buddha. Agama Buddha diperkenalkan di Sriwijaya pada tahun 425 Masehi. Sriwijaya merupakan pusat terpenting agama Buddha Mahayana. Raja-raja Sriwijaya menguasai kepulauan Melayu melalui perdagangan dan penaklukkan dari kurun abad ke-7 hingga abad ke-9. Sehingga secara langsung turut serta mengembangkan bahasa Melayu dan kebudayaan Melayu di Nusantara.

Sangat dimungkinkan bahwa Sriwijaya yg termahsyur sebagai bandar pusat perdagangan di Asia Tenggara sekaligus sebagai pusat pembelajaran agama Budha juga ramai dikunjungi pendatang dari Timur Tengah dan mulai dipengaruhi oleh pedagang dan ulama muslim. Sehingga beberapa kerajaan yg semula merupakan bagian dari Sriwijaya kemudian tumbuh menjadi cikal-bakal kerajaan-kerajaan Islam di Sumatera kelak disaat melemah pengaruh Sriwijaya.

Pengaruh orang muslim Arab yg banyak berkunjung di Sriwijaya raja Sriwijaya yg bernama Sri Indrawarman masuk Islam pada tahun 718. Sehingga sangat dimungkinkan kehidupan sosial Sriwijaya adl masyarakat sosial yg di dalam terdapat masyarakat Budha dan Muslim sekaligus. Tercatat beberapa kali raja Sriwijaya berkirim surat ke khalifah Islam di Suriah. Bahkan disalah satu naskah surat adl ditujukan kepada khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720M) dgn permintaan agar khalifah sudi mengirimkan da’i ke istana Sriwijaya.

Warisan Sejarah Kemaharajaan Sriwijaya

Berdasarkan Hikayat Melayu pendiri Kesultanan Malaka mengaku sebagai pangeran Palembang keturunan keluarga bangsawan Palembang dari trah Sriwijaya. Hal ini menunjukkan bahwa pada abad ke-15 keagungan gengsi dan prestise Sriwijaya tetap dihormati dan dijadikan sebagai sumber legitimasi politik bagi penguasa di kawasan ini.

Nama Sriwijaya telah digunakan dan diabadikan sebagai nama jalan di berbagai kota dan nama ini telah melekat dgn kota Palembang dan Sumatera Selatan.Universitas Sriwijaya yg didirikan tahun 1960 di Palembang dinamakan berdasarkan kedatuan Sriwijaya. Demikian pulaKodam Sriwijaya (unit komando militer) PT Pupuk Sriwijaya (Perusahaan Pupuk di Sumatera Selatan)Sriwijaya Post (Surat kabar harian di Palembang) Sriwijaya TV Sriwijaya Air (maskapai penerbangan) Stadion Gelora Sriwijaya dan Sriwijaya Football Club (Klab sepak bola Palembang) semua dinamakan demikian utk menghormati memuliakan dan merayakan kegemilangan kemaharajaan Sriwijaya.

Di samping Majapahit kaum nasionalis Indonesia juga mengagungkan Sriwijaya sebagai sumber kebanggaan dan bukti kejayaan masa lampau Indonesia.Kegemilangan Sriwijaya telah menjadi sumber kebanggaan nasional dan identitas daerah khusus bagi penduduk kota Palembang provinsi Sumatera Selatan dan segenap bangsa Melayu. Bagi penduduk Palembang keluhuran Sriwijaya telah menjadi inspirasi seni budaya seperti lagu dan tarian tradisional Gending Sriwijaya. Hal yg sama juga berlaku bagi masyarakat Thailand Selatan yg menciptakan kembali tarian Sevichai (Sriwijaya) yg berdasarkan pada keanggunan seni budaya Sriwijaya.

Salam Api PANCASILA....MERDEKA!!!

ERA KERAJAAN HINDU DAN BUDDHA

Wikramawardhana, Majapahit, Kutaraja, Anusapati, Jayanegara, Kasultanan Malaka, Raden Wijaya, Tunggul Ametung, Kubilai Khan, Daha, Kadiri, Tarik, Nagarakertagama, Narasingamurti, Tohjaya, Dinasti Yuan, Ken Arok, Jawa Tengah, Ekspedisi Pamalayu, Sri, Kudadu, Pararaton, Tumapel, Patih, Brahmana, Mahisa Wunga Teleng, Mandala Amoghapasa, Rajadewi, Wirabhumi, Bangsa Mongol, Kertajaya, Bhatara Siwa, Wirabumi, Prasasti, Kertarajasa Jayawardhana, Kertanegara, Ranggawuni, Perang Paregreg, Brawijaya, Ranggah Rajasa Sang Girinathapura, Jepara, Hayam Wuruk, Jayabaya, Adipati Unus, Kasultana Demak, Jawa Timur, Gajah Mada, Sriwijaya, Jayabhaya, Mahisa Campaka, Aria Wiraraja, Lembu Sora, Singasari, Dharmasraya, Kediri, Singosari, Singhasari, Penyebaran Islam, Wisnuwardhana, Sidoharjo, Sejarah, Pleistocene, Austronesia, Buddha, Hindu, Marco Polo, Budha, Sejarah Nusantara, Prasejarah, Dwipantara, Persia, China, Ibn Battuta, Wikipedia, Tiongkok, Dongson, Timur Tengah, Alur Waktu, Formos, India, Hindu Jawa Dwipa, Islam, Melayu, Malaka, Jawa, Maha Resi Agastya, Datu, Kerajaan Mataram Kuno, Prabu Maharaja Linggabuanawisésa, Dinasti Sung, Prabu Linggadéwata, Serayu, Candi Sewu, Lampung, Saunggalah, Rakai Kayuwangi, Mapatih Hino, Rahyang Séna, Niskalawastukancana, Rahyang Sanjaya, Kerajaan Singhasari, Prabhu Gajahkulon, Dharmaraja, Nay Sekarkancana, Tembelang, Van Naerssen, Mamrati, Candi Kalasan, Rahyang ta rumuhun ri Medang ri Poh Pitu, Mahamantri Bawang, Banten, Sri Lokapala, UNESCO, Oxford University Inggris, Mpu Daksa, Mahapralaya, Watan, Déwi Sudiwara, Prabu Sakti, Jambi, Medang i Poh Pitu, Prabhu Guru Dharmasiksa, Dyah Pancapana, Déwi Ganggasari, Sannaha, Dapuntahyang Sri Janayasa, Raden Kalagemet, Prabu Susuktunggal, Rakryan Wuwus, Dara Jingga, Maharaja Rakai Gurunwangi, Medang i Watugaluh, Adityawarman, Wangsa Sailendra, Prasasti Cibadak, Wretikandayun, Rakai Pikatan, Rakryan Jayagiri, Inggris, Ningratkancana, Limburkancana, Galuh, Rakai Watukura Dyah Balitung, Sang Prabu Bunisora, Jombang, Kerajaan Pagaruyung, Airlangga, Bratasenawa, Rarkyan Sundasambawa, Tarumanagara, Rahyang Tamperan, Bujangga Manik, Dara Petak, Bubat, Wangsa Isana, Prasasti Minto, Patih Mangkubumi, Shri Tribhuana Raja Mauliwarmadhewa, Sri Isanatunggawijaya, Rakryan Sundasambawa, Candi Borobudur, Kerajaan Kahuripan, Prasasti Anjukladang, Nganjuk, Rakryan Mapatih Hino, Sri Maharaja Linggawarman Atmahariwangsa Panunggal, Dyah Tulodong, Sang Prabhu Linggabhumi, Makuthawangsawardhana, Prabhu Kertabhuwana Yasawiguna Hajimulya, Prabu Surawisésa, Prasasti Mantyasih, Selat Sunda, Samaratungga, Rakryan Hujungkulon, Jawa Barat, Mahamantri Wka, Prabhu Ragasuci, Pakuan Pajajaran, Rakai Panunggalan, Kerajaan Dharmasraya, Bhre, Raja Kertanegara, Prabu Ragamulya, Medang i Tamwlang, Rahyang Panangkaran, Ciserayu, Sang Welengan, Nay Ratna Mayangsari, Bundo Kandung, Rakryan Kamuninggading, Sang Ratu, Yogyakarta, Prabhu Citraganda, Sumatera Barat, Sri Baduga Maharaja, Sri Jayanegara, Prasasti Ligor, Mpu Sindok, Teori Bosch, Kadatwan Medang i Bhumi Mataram, Hindu Sunda, Jakarta, Rakai Watuhumalang, Rakryan Windusakti, Senopati Mahesa Anabrang, Citarum, Kerajaan Mataram, Sri Jayabhupati, Rakryan Diwus, Déwi Manasih, Prabu Ragamulya Luhurprabawa, Ciung Wanara, Sawahlunto, Prasasti Canggal, Déwi Kancanasari, Buddha Mahayana, Parahyangan, Prasasti Kalasan, Mataram Hindu, Rahyang Purbasora, Pamalayu, Lwaram, Portugis, Rakryan Mahamantri i Hino, Mauliwarmadhewa, Jayadéwata, Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, Candi Prambanan, Wangsakerta, Prabhu Langlangbhumi, Kesultanan Banten, Kerajaan Chola, Dyah Balitung, Minangkabau, Balaputradewa, Rakryan Gendang, Sang Mansiri, Tamwlang, Anjukladang, Sang Manarah, Adwaya Brahman, Rakai Garung, Rakai Layang Dyah Tulodong, Boedlian, Rakryan Saunggalah, Mahamantri i Sirikan, Sailendrawangsa, Candi Plaosan, Perang Bubat, Dyah Wawa, Summa Oriental, Nay Ratna Sarkati, Tarusbawa, Isanawangsa, Sri Isana Wikramadharmottungga, Dharmawangsa Teguh, Bundo Kanduang, Raja Erlangga, Ambetkasih, Rakryan Watuagung, Dapunta Hyang, Slamet Muljana, Brebes, Candi Pawon, Sri Maharaja, Wangsa Sanjaya, Mahamantri i Halu, Prabu Déwaniskala, Rakai Panangkaran, Prabu Pucukbhumi Dharmeswara, Sang Limburkancana, Prabu Gilingwesi, Indraprahasta, Kerajaan Medang, Ananggawarman, Kronik Cina, Rakai Warak, Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya, Prabhu Déwasanghyang, Candi Mendut, Kerajaan Melayu Tua, Sailendrawangsatilaka, Rakryan Kanuruhan, Prabhu Dharmakusuma, Pramodawardhani, Rakai Sumba Dyah Wawa, Kerajaan Sunda, Prabu Hulukujang, Dyah Lokapala, Demunawan, Batang Hari, Kerajaan Melayu Jambi, Maharaja Rakai Limus Dyah Dewendra, Prabu Ajiguna Linggawisésa, Kerajaan Mataram Islam, Prabu Nilakéndra, Puti Reno Mandi, Maharaja Wisnu, Perancis, Bumi Mataram, Prabu Déwatabuanawisésa, Poh Pitu, Sanjaya, Dharanindra, Sang Banga, Cipamali, Sanjayawangsa, Hindu Siwa, Prabu Suryakancana, Rajya Medang i Bhumi Mataram, Kalingga, Cimanuk, Suklapaksa, Samaragrawira, Aji Wurawari, Hariang Banga, Sobakancana, Medang i Watan, Arya Kadatwan, Medang i Mamrati, Sanna, Tome Pires, Rarkyan Medang, Keling, Prabu Bujangga Manik, Rakryan Mapatih, Sang Haliwungan



Sejarah Nusantara pada era kerajaan Hindu-Buddha

Indonesia mulai berkembang pada zaman kerajaan Hindu-Buddha berkat hubungan dagang dengan negara-negara tetangga maupun yang lebih jauh seperti India, China dan wilayah Timur Tengah. Agama Hindu masuk ke Indonesia diperkirakan pada awal Tarikh Masehi, dibawa oleh para musafir dari India antara lain: Maha Resi Agastya yang di Jawa terkenal dengan sebutan Batara Guru atau Dwipayana dan juga para musafir dari Tiongkok yakni Musafir Budha Pahyien.



Dua kerajaan besar pada zaman ini adalah Sriwijaya dan Majapahit. Pada masa abad ke-7 hingga abad ke-14, kerajaan Buddha Sriwijaya berkembang pesat di Sumatra. Penjelajah Tiongkok I-Tsing mengunjungi ibukotanya Palembang sekitar tahun 670. Pada puncak kejayaannya, Sriwijaya menguasai daerah sejauh Jawa Barat dan Semenanjung Melayu. Abad ke-14 juga menjadi saksi bangkitnya sebuah kerajaan Hindu di Jawa Timur, Majapahit. Patih Majapahit antara tahun 1331 hingga 1364, Gajah Mada berhasil memperoleh kekuasaan atas wilayah yang kini sebagian besarnya adalah Indonesia beserta hampir seluruh Semenanjung Melayu. Warisan dari masa Gajah Mada termasuk kodifikasi hukum dan dalam kebudayaan Jawa, seperti yang terlihat dalam wiracarita Ramayana.



Masuknya Islam pada sekitar abad ke-12 secara perlahan-lahan menandai akhir dari era ini.



Alur Waktu

- 300 - Indonesia telah melakukan hubungan dagang dengan India Hubungan dagang ini mulai intensif abad ke-2 M. Memperdagangkan barang-barang dalam pasaran internasional misalnya: logam mulia, perhiasan, kerajinan, wangi-wangian, obat-obatan. Dari sebelah timur Indonesia diperdagangkan kayu cendana, kapur barus, cengkeh. Hubungan dagang ini memberi pengaruh yang besar dalam masyarakat Indonesia, terutama dengan masuknya ajaran Hindu dan Budha, pengaruh lainnya terlihat pada sistem pemerintahan.

- 300 - Telah dilakukannya hubungan pelayaran niaga yang melintasi Tiongkok. Dibuktikan dengan perjalanan dua pendeta Budha yaitu Fa Shien dan Gunavarman. Hubungan dagang ini telah lazim dilakukan, barang-barang yang diperdagangkan kemenyan, kayu cendana, hasil kerajinan.

- 400 - Hindu dan Budha telah berkembang di Indonesia dilihat dari sejarah kerajaan-kerajaan dan peninggalan-peninggalan pada masa itu antara lain candi, patung dewa, seni ukir, barang-barang logam.

- 671 - Seorang pendeta Budha dari Tiongkok, bernama I-Tsing berangkat dari Kanton ke India. Ia singgah di Sriwijaya untuk belajar tatabahasa Sansekerta, kemudian ia singgah di Melayu selama dua bulan, dan baru melanjutkan perjalanannya ke India.

- 685 - I-Tsing kembali ke Sriwijaya, disini ia tinggal selama empat tahun untuk menterjemahkan kitab suci Budha dari bahasa Sansekerta ke dalam bahasa Tionghoa.

- 692 - Salah satu kerajaan Hindu di Indonesia yaitu Sriwijaya tumbuh dan berkembang menjadi besar dan pusat perdagangan yang dikunjungi pedagang Arab, Parsi, Tiongkok. Yang diperdagangkan antara lain tekstil, kapur barus, mutiara, rempah-rempah, emas, perak. Sebagian dari Semenanjung Malaya, Selat Malaka, Sumatera Utara, Sunda, Jambi termasuk kekuasaaan Sriwijaya. Pada masa ini perkembangan kerajaan Sriwijaya berkaitan dengan masa ekspansi Islam di Indonesia dalam periode permulaan. Sriwijaya dikenal juga sebagai kerajaan maritim.

- 922 - Dari sebuah laporan tertulis diketahui seorang musafir Tiongkok telah datang kekerajaan Kahuripan di Jawa Timur dan maharaja Jawa telah menghadiahkan pedang pendek berhulu gading berukur pada kaisar Tiongkok.

- 1292 - Musafir Venesia, Marco Polo singgah di bagian utara Aceh dalam perjalanan pulangnya dari Tiongkok ke Persia melalui laut. Marco Polo berpendapat bahwa Perlak merupakan sebuah kota Islam.

- 1345-1346 - Musafir Maroko, Ibn Battuta melewati Samudra dalam perjalanannya ke dan dari Tiongkok. Diketahui juga bahwa Samudra merupakan pelabuhan yang sangat penting, tempat kapal-kapal dagang dari India dan Tiongkok. Ibn Battuta mendapati bahwa penguasa Samudra adalah seorang pengikut Mahzab Syafi'i salah satu ajaran dalam Islam.

- 1350-1389 - Puncak kejayaan Majapahit dibawah pimpinan Raja Hayam Wuruk dan patihnya Gajah Mada. Majapahit menguasai seluruh kepulauan Indonesia bahkan Jazirah Malaka sesuai dengan "sumpah Palapa" Gajah Mada yang ingin Nusantara bersatu.

Selasa, 05 April 2011

MANTRA BUDHA

Aku berlindung kepada Tri-Ratna
Aku berlindung kepada yang melihat dunia dengan welas asih
Di dalam makhluk agung yang telah mencapai penerangan, di dalam yang penuh Welas Asih dan Kasih Sayang

Om di dalam perlindungan yang tidak merasa takut dan gentar
Semoga aku dapat berlidung di dalam Yang Maha Esa
Aku berlindung kepada-Mu, di dalam kewelas-asihan
Yang penuh dengan pergertian dari semua cara dan jalan,
Yang Suci yang membuat semua makhluk berupaya dan menyucikan semua alam kehidupan

Kepada-Nya:
Om Yang Maha Esa, Yang Transcenden di dunia
Oh, Hari makhluk agung yang terang!
Semuanya semuanya dari lingkaran bunga
Inti dari dunia! Buatlah sukses! Sukses!

Pekik kemenangan yang sukses! Maha besar! Pekik kemenangan!
Berdirilah! Berdirilah dengan tegak! Oh indra!
Bergeraklah! Bergeraklah! Bebaskan saya dari gangguan pikiran!
Datanglah! Datanglah! Dengarlah! Dengarlah!
Sukacita yang timbul, Berbicaralah! Berbicaralah!

Berilah seruan!
Suara-suara untuk permohonan di dalam doa
Bangkit! Bangkit!

Oh! Yang penuh dengan kasih! Dia yang patut didombakan
Kepada yang tak gentar, Svaha!
Kepada yang penuh kekuatan, Svaha!
Kepada yang penuh kekuatan maha besar, Svaha!
Kepada yang penuh kekuatan dari kesatuan, Svaha!

Kepada yang agung, Svaha!
Kepada yang kelihatan berwajah seram, Svaha!
Kepada yang berwajah singa, Svaha!
Kepada semua yang memiliki kekuatan besar, Svaha!
Kepada yang memiliki kekuatan Chakra, Svaha!
Kepada yang memegang teratai, Svaha!

Kepada yang agung, Svaha!
Kepada Yang Maha Esa dan yang memberkati, Svaha!
Aku berlindung kepada TriRatna
Aku berlindung kepada Yang Maha Esa, Svaha!
Om, semoga hasil dari mantra ini terlaksana.

Sanskrit

Namo ratna-trayāya
Namo āriyā-valokite-śvarāya
Bodhi-sattvāya, Maha-sattvāya, Mahā-kārunikāya

Om sarva-raviye sudhanadasya
Namo skritvā imam āryā-valokite-śvara ramdhava
Namo narakindi hrih Mahā-vat-svāme
Sarva-arthato-śubham ajeyam
Sarva-sat Namo-vasat Namo-vāka mavitāto

Tadyathā
Om avaloki-lokate-krate-e-hrih Mahā-bodhisattva
Sarva sarva, Mala mala
Mahi Mahi ridayam, Kuru kuru karmam

Dhuru dhuru, vijayate Mahā-vijayati
Dhara dhara dhrini śvarāya
Cala cala mama vimala muktele
Ehi ehi śina śina ārsam prasari
viśva viśvam prasaya

Hulu hulu mara, Hulu hulu hrih
Sara sara siri siri suru suru
Bodhiya Bodhiya Bodhaya Bodhaya

Maitreya narakindi dhrish-nina bhayamana svāhā
Siddhāya svāhā
Maha siddhāya svāhā
Siddha-yoge-śvaraya svāhā

Narakindi svāhā, Māranara svāhā
śira simha-mukhāya svāhā
Sarva mahā-asiddhaya svāhā
Cakra-asiddhāya svāhā
Padma-kastāya svāhā

Narakindi-vagalāya svaha
Mavari-śankharāya svāhā
Namo ratna-trāyāya
Namo āryā-valokite-śvaraya svāhā
Om Sidhyantu mantra padāya svāhā

Hakekat Keberadaan Candi Sapta Rengga NARAYANA

oleh Ganesha Nurahmad pada 05 Mei 2010 jam 13:57

“Jangan lihat apa yang dilihat, tetapi lihatlah di balik apa yang dilihat”

Ungkapan tersebut merupakan pakem ajaran leluhur didalam memandang segala sesuatu kejadian dalam kehidupan ini. Semua kejadian adalah perlambang yang memiliki makna dan maksud sebagai petunjuk bagi yang melihat atau merasakannya baik itu bersifat nyata maupun kegaiban (tak nyata). Kenyataan yang mengandung makna kegaiban dengan dasar hakekat kawruh (ajaran leluhur) dikenal dengan istilah Kasunyatan. Maka ajaran leluhur dalam implementasinya sangat sarat dan kental dengan perlambang-perlambang. Dengan kepekaan rasa hasil olah rasa membuat ketanggapan atau kejelian didalam menerima “pesan” berupa perlambang dan menjawabnya dengan “tindakan” berupa perlambang pula. Tentu saja segala hakekat yang dimaknai akan berpengaruh pada tindakan perbuatan yang selaras sebagai aplikasi perilaku di dalam kehidupan praktis. Jadi hal yang demikian itu salah besar kalau dikatakan sebagai tindakan primitif apalagi animisme. Malahan sebaliknya menunjukkan kecerdasan spiritual yang sangat tinggi (tauhid) dan peradaban yang santun dan luhur. Karena segala sesuatu yang dilakukan selalu berlandaskan pada kesadaran akan ke-Tuhan-an dengan semangat kesadaran manembah Kawula mring Gusti.

Seperti halnya keberadaan Candi NARAYANA yang merupakan wujud hasil implementasi amanah kegaiban, merupakan kasunyatan yang sarat dengan kawruh. Dalam hal ini kawruh yang dimaksud adalah pengetahuan hakekat yang diperoleh atau yang terkandung dari hasil pelaksanaan amanah, yaitu amanah guru rohani sejati. Maka Ilmu tanpa Laku adalah sia-sia dan hanya menciptakan angan-angan belaka. Sedangkan Laku tanpa Ilmu akan menjurus pada penyimpangan atau penyesatan. Keduanya harus berjalan selaras. Hasil Laku berdasarkan Ilmu itulah kemudian diperoleh Kawruh/Kaweruh yaitu pemahaman ajaran leluhur yang dijalankan, dirasakan dan dibuktikan mengandung kenyataan dan kebenaran sejati yang kemudian menjadi pengetahuan sejati dan merasuk ke dalam rasa jati.

Tidaklah mungkin dipaparkan satu per satu detail proses pembangunan Candi NARAYANA yang akhirnya mewujud seperti yang kita lihat bersama. Banyak keanehan yang menakjubkan yang terjadi sejak awal hingga akhir pembangunan candi. Setidaknya upaya pembangunannya berjalan secara spontan namun tidak lazim karena berjalan tanpa kepanitiaan dan tanpa proposal. Meskipun ketika itu dengan segala kesadaran menghadapi segudang faktor kesulitan yang tinggi guna mewujudkannya. Banyak hal-hal di luar dugaan yang kemudian memperlancar dalam upaya pembangunannya. Maha Suci dan Maha Benar Tuhan dengan segala Firman-Nya..

Candi adalah sebuah “kitab” yang mengandung bahasa perlambang dan menyiratkan pelajaran atau pesan-pesan tertentu kepada manusia. Karena sejatinya CANDI adalah “wawaCAN-Diri” (bacaan diri manusia). Terdapat lapisan-lapisan (layers) hakekat yang terkandung di dalamnya. Secara fisik Candi NARAYANA memiliki 3 (tiga) tingkat anak tangga yang melambangkan 3 (tiga) alam, yaitu “Alam Bawah” (Bhur Loka / Buana Handap (Larang) / Betal Mukadas (pasuceningsun) / Woh Wit Kuldi), “Alam Tengah” (Bwah Loka / Buana Tengah / Betal Muharam (lalaranganingsun) / Woh Wit Kawruh), dan “Alam Atas” (Swah Loka / Buana Luhur (Nyungcung) / Betal Makmur (parameyaningsun) / Woh Wit Budi). Ketiga alam ini dalam konteks “Jagad Cilik / Buana Alit” ada di dalam diri kita manusia. Alam Bawah adalah wilayah Karsa (syahwat/nafsu dan keinginan), Alam Tengah adalah wilayah Rasa (hati/batin), dan Alam Atas adalah wilayah Cipta (akal pikiran dan panca indria). Secara kawruh masing-masing alam ini tentu saja harus dikenali terlebih dahulu. Karena tiap alam terdiri dari 7 (tujuh) unsur (tidak akan dibahas di sini). Jika telah mengenali dan muncul kesadaran untuk menapaki atau menjalaninya, maka fase berikutnya adalah masuk ke dalam candi sebagai lambang siap masuk ke dalam diri pribadi. Namun sebelum masuk pintu candi kita akan bertemu dengan 2 ekor Naga penjaga sebagai lambang ujian bagi manusia untuk harus berperang menghadapi godaan atau nafsu dari dalam diri maupun dari luar dirinya. Setelah lolos ujian tersebut berikutnya akan menapak naik ke atas badan Kura-Kura sebagai lambang kekokohan dan kestabilan, juga lambang bumi yang kita pijak ini. Dibutuhkan keberanian, keteguhan dan kekuatan jiwa untuk memasuki pintu hati sendiri.

Berikutnya dengan memasuki pintu jati berornamen ukiran Stupa/Genta adalah sebagai lambang memasuki pintu kesucian untuk mencari Kesejatian diri dengan berlaku Budha (= mencapai “kesadaran tertinggi” kepada Tuhan) dengan berpijak kepada Sabda-Sabda-Nya dan senantiasa memuji Nama-Nya. Dalam fase ini kita akan mulai berupaya menembusi “Bumi Sap Pitu” (bumi lapis tujuh), yaitu masuk ke dalam tujuh lapis diri kita yang terdiri dari : Jasad – Akal Pikiran – Nafsu-nafsu – Roh – Sirr/Rahasia/Rahsa – Nur – Urip. Ini dilambangkan dengan puncak 7 tingkat (Sapta Rengga) pada Candi NARAYANA. Untuk menembus setiap lapisan tentu saja harus melakukan upaya pembebasan atau melepas segala ikatan (zuhud / merdeka dari segala penjajahan hawa nafsu) yang mana makna ini disimbolkan dengan warna Merah Putih pada candi (batu bata merah dan batu putih). Dalam pakem kawruh, upaya-upaya tersebut dilakukan dengan laku tirakat : Nyegah Sare (berjaga di waktu malam), Nyegah Dahar (banyak berpuasa), dan Nyegah Syahwat (mencegah keinginan-keinginan termasuk sex). Dengan melanggengkan sikap Eneng, Ening, Eling, dan Waspada, upaya tersebut dimaksudkan pula sebagai sarana untuk mampu menguasai ke tiga alam yang ada pada diri kita. Dalam kesufian upaya ini dikenal dengan istilah “man arofa nafsahu faqad arofa robbahu” (mengenal diri maka mengenal Tuhan). Menembus Bumi Sap Pitu - Langit Sap Pitu adalah upaya masuk ke kedalaman batin yang tak terhingga yang secara hakekat sejatinya adalah naik (mi’roj) hingga mengenal Sang Urip (hidupnya sendiri). Disinilah makna ajaran leluhur yang dikatakan diri kita manusia adalah titik pertemuan yang disebut Cakra Buana yaitu pusat pertemuan antara alam di luar diri kita (Jagad Gede / Buana Agung) yang sangat luas tak terhingga dengan alam batin di dalam diri kita (Jagad Cilik / Buana Alit) yang sangat dalam tak terhingga.

Setidaknya itulah salah satu lapisan hakekat dari wujud Candi NARAYANA sebagai “wawaCAN-Diri”. Sebuah kitab perjalanan manusia untuk kembali ingat akan perjanjian dengan Tuhan-nya. Sangkan paraning dumadi. Innalillahi wa inaillaihi roji’un. Namun dari lapisan hakekat yang lain, keberadaan Candi Sapta Rengga NARAYANA yang merupakan wujud amanah gaib Sabdo Palon yakni beliau Danghyang Nirartha dimaksudkan sebagai “tetenger” (tanda peringatan) kehadiran kembali beliau sesuai sabda yang pernah diucapkannya 500 tahun yang lalu. Kehadiran beliau saat ini membawa peringatan bagi seluruh umat di jagad raya ini (khususnya Nusantara) yang diperlambangkan dengan 3 alam yang terkait. Gunung Penanggungan di arah Barat Daya, Watu Kosek di Tengah, dan Lumpur Lapindo di arah Timur Laut membentuk garis imajiner yang lurus sempurna. Maknanya beliau hadir turun gunung untuk mengajak umat manusia menyucikan atau membersihkan hati sebagai upaya menanggung dosa yang diakibatkan selama ini telah lama berkubang dalam lumpur dosa. Lumpur dosa yang tidak biasa, namun lumpur panas beracun dengan bau yang sangat menyengat, menyengsarakan bahkan membawa banyak korban. Secara spiritual titik Barat Daya mengandung misteri. 500 tahun yang lalu beliau moksha di Ulu Watu (Barat Daya/ Dewa Rudra), dan saat ini beliau hadir kembali di Tanah Jawa dari arah Barat Daya yaitu Gunung Penanggungan (hakekat puncak Mahameru – dikelilingi 8 gunung lainnya). Turun gunung menuju kaki Gunung Penanggungan di Watu Kosek (Tengah/ Dewa Siwa). Renungkan Sloka 10.23 Bhagawad Gita : “Di antara semua Rudra Aku adalah Dewa Siwa, di antara para Yaksa dan Raksasa Aku adalah Dewa Kekayaan (Kuwera), di antara para Wasu aku adalah Api (Agni), dan di antara gunung-gunung Aku adalah Meru (Maha Meru).”

Saat ini kita jadi lebih mengerti bahwa sejatinya Semburan Lumpur Lapindo yang muncul sejak 29 Mei 2006 merupakan stigma dari Hyang Maha Kuasa untuk umat manusia (di Nusantara khususnya) agar berpikir dan merenung. Hal ini tidak terlepas dari stigma-stigma lain berupa kejadian-kejadian besar di negeri ini yang diawali munculnya Tsunami Aceh di penghujung 2004 yang lalu (baca : Surat Terbuka kepada SBY – 14 September 2006). Semua kejadian merupakan rangkaian bahasa yang membentuk kata dan kalimat, itulah Sabda Terbentang. Kejadian Lumpur Lapindo secara kawruh merupakan bukti bahwa jika tempat suci (alam Karsa/Pasuceningsun) dirusak baik sengaja maupun tidak sengaja (karena tidak tahu mungkin), maka akan berakibat fatal yakni kehancuran. “Jika dahulu situs Candi Bradah berukuran 4 m x 4 m, karena dirusak maka yang muncul adalah Pradah atau musibah yang membawa konsekuensi hancurnya wilayah itu seluas 4 km x 4 km” (mengutip ungkapan Ida Bagus Suteja ). Inilah bukti nyata jika manusia di alam modern sekarang telah angkuh dan sombong mengabaikan bahkan telah meninggalkan ajaran leluhur dan keberadaan leluhur kita sendiri. Untuk diketahui oleh kita semua, bukan merupakan suatu kebetulan bahwa sejatinya di Candi Pradah itulah berstana “Batara Naga Raja (Naga Sugih) dan Batari Pusering Bumi.” Maka lapis hakekat lain keberadaan Candi Sapta Rengga NARAYANA adalah merupakan astana baru bagi beliau Ida Batara/Batari.

Pun Sapun ka Sang Rumuhun.. Sang Batara, Sang Batari Batara anu ngayuga Batari Pusering Bumi Nu ngayuga alam padang

Ieu teh rajah pamunah Rajah pamunah sagala Munah lemah munah imah Munah sagala nu aya Di cai katut eusina Raga badag sajirimna

Pun Sapun ka luhur ka Sang Rumuhun.. Ka guru Putra Hyang Bayu Ka handap ka Sang Batara Ka Batara Naga Raja Ka Batara Naga Sugih

Punika rajah pamunah Paragi munah sagala Munah lemah katut imah Munah kayu katut watu Munah cai katut diri Munah raga jeung banda

Nama Candi NARAYANA merupakan nama niskala yang diberikan oleh beliau Danghyang Nirartha. Guna memahami di balik maksud keberadaan Candi NARAYANA sebagai sebuah kitab atau “wawaCAN-Diri” manusia, maka bacalah dan pahamilah BHAGAWAD GITA. Kesempurnaan dari pemahaman kata-kata dan kalimat adalah ber-DHARMA BAKTI. Gerakkan roda Dharma untuk menjalani Karma guna menggapai Moksha. Semoga sekelumit uraian hakekat keberadaan Candi Sapta Rengga NARAYANA ini bermanfaat untuk kita semua. Salam MERAH PUTIH..

JAYALAH NEGERIKU.. TEGAKLAH GARUDAKU.. JAYALAH NUSANTARAKU..



Rabu/Budha Pon – Sungsang, 5 Mei 2010
Ganesha NurahmadBagikan