Menjemput yang Tertinggal, Mengemaskan yang Tercecer, Mengingatkan yang Terlupa " ELING LAN WASPADA"

Jumat, 29 Juli 2011

SEJARAH RAJA BATAK

RAJA BATAK
Awal mulanya orang Batak jatuh dari langit, keluar dari pecahan bamboo. Begitulah ceritanya legenda orang Batak di ambil dari Dongeng-dongeng leluhur atau nenek-nenek moyang terdahulu, percaya atau tidak memang begitulah jalan ceritanya.
Ada juga cerita dari seorang Missionaries bernama Mr. Warneck datang ke daerah Batak dari Jerman, dikatakan asal mulanya orang Batak, dari sebuah benih manusia berada di dalam sebuah lorong (Poting) bamboo yaitu sebuah potongan bamboo yang berisi air dari langit yang di sampaikan kurir antara langit dan bumi oleh Debata Mulajadi Nabolon ( Allah Sang Maha Besar ) kepada Boru Deak Parujar di antara dewa dewi penghuni Bumi.
Yang di maksud kurir adalah seekor Burung Layang-layang suruhan Debata Mulajadi Nabolon turun dari langit membawa sebuah ladang tersebut diatas.
Setelah ladang itu disampaikan dan diterima Boru Deak Parujar, lalu burung layang itu berkata : “Tenunlah sebuah Ulos Ragihidup (nama ulos) dan setelah selesai engkau tenun, dan engkau lilitkan ulos itu dan dibuka”. Demikianlah perkataan burung layang itu dan dilakukannya lalu melompatlah seorang bayi laki-laki dari dalam ladang, itulah disebut Tuan Maulana (yang awal) si Raja Batak di Sianjur Mula-mula Pusuk Buhit. Melihat kejadian yang dialaminya, pada saat itulah si Boru Deak Parujar menyampaikan pertanyaan kepada Debata Mulajadi Nabolon dan ia menjawab : “Rawatlah dan besarkan bayi itu dan itulah teman hidupmu di Bumi” dan mulai saat itu juga si Boru Deak Parujar menjadi seorang manusia menjadi istri si Raja Batak.
Dari cerita diatas dapat diketahui bahwa pada mulanya pun Suku Batak mengetahui Debata Mulajadi Nabolon (artinya Allah Yang Maha Besar) pencipta langit dan bumi.
Ada lagi cerita seorang Guru Sejarah Dunia di sekolah SR (Sekolah Rakyat) di Kota Barus Desa Labutua (Kota Tertua di Kepulauan Nusantara) yang terletak di pesisir Pantai Barat Pulau Sumatera pinggir pantai laut lepas Lautan Hindia yang mungkin lebih dekat kebenarannya.
Guru tersebut menceritakan, di jaman pembentukan Planet Bumi yang mana di jaman itu Iklim dibumi tidak menentu.
Pada jaman itu Benua Australia, Kepulauan Nusantara, Semenanjung Malaya sampai Kepulauan Filipina, bersatu daratan yang luas. Mempunyai gunung-gunung berapi termasuk di jajaran Bukit Barisan di Pulau Sumatera.
Setelah waktu berjalan terus sampailah ke jaman perubahan iklim menjadi tetap akibat gerhana matahari tidak berubah sehingga iklim di Bumi menjadi parah mengakibatkan gumpalan-gumpalan gunung Es di Kutub Utara dan Selatan mencair menjadi air, sehingga permukaan air laut bertambah tinggi. Hingga daratan-daratan di permukaan bumi yang lebih rendah terbenam menjadi lautan yang dangkal, maka terbentuklah Benua Australia, Kep. Nusantara, Malaya dan Kep.Filipina, termasuk Pulau Sumatera yang banyak mempunyai bukit dan gunung-gunung berapi.
Gunung berapi di jajaran Bukit Barisan dan diantara bukit-bukit itu ada bernama Dolok Pusuk Buhit (cerita kedua tempat mulanya si Raja Batak di turunkan oleh Debata Mulajadi Nabolon) di Sianjur Mula-mula yang terletak di tengah-tengah Danau Toba, yang mungkin juga bekas gumparan-gumparan lahar menjadi P.Samosir.
Demikian juga asal mula Danau Toba adalah bekas pecahan gunung berapi yang sangat dahsyat di dunia, sehingga bentuk kawah-kawah atau lubang-lubang kepundan yang sangat luas menjadi sebuah Danau Air Tawar dan itulah Danau Toba.
Setelah beberapa abad berlalu, daerah sekeliling letusan gunung berapi menjadi sangat subur untuk lahan pertanian, sehingga banyak orang datang ke tempat itu dari pesisir pantai barat dan timur untuk menggarap lahan-lahan pertanian yang saling membawa adat kebiasaan, sifat dan budaya serta karakter yang berbeda-beda dari masing-masing orang dan kelompok ketempat tersebut.
Menurut sejarah yang di sampaikan oleh Guru SR tersebut diatas bahwa, mulanya penduduk di kepulauan Nusantara (Indonesia) datang dari Hindia Belakang dari Suku Mongolia yang juga gemar berkelana berlayar di laut lepas menjadi orang Melanesia dan sampai Kepulauan Nusantara menjadi orang Malaya. Terdampar di Desa Lobutua Kec. Barus di Pantai Barat Sumatera pinggiran Lautan Hindia, dari sanalah mulanya tersebar ke seluruh penjuru kepulauan Indonesia.
Setelah tersebar ke daerah-daerah pantai di seluruh Indonesia saling dibentuk oleh iklim dan daerah-daerah yang ditempati sehingga sifat dan karakter masing-masing berbeda-beda juga. Setelah banyak daerah-daerah pesisir pantai yang ditempati penduduk di seluruh Kep. Nusatara saling mencari lahan-lahan pertanian untuk melanjutkan kehidupan masing-masing orang dan kelompok, menyebar lagi sampai ke daerah pedalaman termasuk ke pedalaman pulau Sumatera yaitu Daerah Bukit Barisan tepatnya sekeliling Danau Toba (daerah yang subur).
Setelah banyak orang dan kelompok datang ke daerah pinggiran Danau Toba yang berbeda-beda sifat dan karakter serta budaya dan tinggal menetap disana dan saling memperluas lahan garapannya masing-masing.
Pada suatu saat timbul percekcokan dan perkelahian diantara penggarap masing-masing orang dan kelompok sampai permusuhan turun-temurun.
Akibat permusuhan turun-temurun itu, satu orang dari antara penggarap itu lari menyebrangi Danau Toba untuk menghindari permusuhan turun-temurun tersebut agar dapat melanjutkan kehidupan, sampai ke Pulau Samosir di tengah-tengah Danau Toba terus naik ke Dolok Pusut Buhit di Tombak Sianjur Mula-mula. Dan satu orang itulah Si Raja Batak asal mulanya dari Suku Batak.
Setelah beberapa ratus tahun lamanya si Raja Batak tinggal di Tanah Sianjur Mula-mula sampai beranak cucu sehingga tidak mencukupi lagi tanah ladang, mau tidak mau banyak yang pergi mencari lahan-lahan baru di luar Pulau Samosir.
Mengingat permusuhan yang dialami si Raja Batak, untuk menjaga keselamatan anak cucunya, maka mereka pergi menyeberangi Danau Toba untuk mencari lahan baru. Maka timbulah niat si Raja Batak Martonggo tu Debata Mulajadi Nabolon (berdoa kepada Allah Yang Maha Besar) meminta perlindungan dan Bisuk (akal kebijakan) agar keturunannya terhindar dari bahaya permusuhan yang turun-temurun itu.
Lalu pergilah si Raja Batak ke Puncak gunung Pusuk Buhit Martonggo, berdoa dan benarlah Debata Mulajadi Nabolon memberikan bisuk dan petunjuk kepada si Raja Batak yaitu 2 (duah) Buah Pesan (Tona) yang sangat berharga untuk keturunan (anak cucu) si Raja Batak dan mulai saat itulah bisuk yang dimiliki orang Batak sampai sekarang turun-temurun.
Tona (pesan) yang diberikan Debata Mulajadi Nabolon kepada si Raja Batak adalah :
Jangan memberitahukan kepada siapapun darimana asal-usul keturunan Mu.
Harus memberitahukan asal-usul dan silsilah kepada semua keturunan Mu.
Dengan 2 (dua) buah pesan yang diberikan Debata Mulajadi Nabolon inilah menjadi fakta bahwa orang Batak yang mungkin sebagai batang tubuh Dalihan Natolu yang terkandung di dalam falsafah orang Batak. Artinya : Somba Marhula-hula, Elek Marboru, Manat Mardongan Tubu, itulah budaya suku batak untuk mengikat tali persaudaraan yang harus dimiliki turun-temurun sampai sekarang dan di pandu dengan Tarombo (silsilah) sebagai pendukung yang utama. Maka teralisasilah dengan baik filsafah Dalihan Natolu, erat sekali hubungannya dengan Tarombo agar Budaya Adat Batak dapat berjalan dengan baik. Dengan demikian sedikit dijelaskan sejarah silsilah suku batak yang sudah menjadi marga-marga.
Si Raja Batak mulanya orang Batak dengan Istrinya Boru Deak Parujar mulanya di Sianjur Mula-mula di tengah-tengah Pulau Samosir diatas Dolok Pusuk Buhit, mempunyai keturunan 2 (dua) orang anak bernama:
Guru Tetea Bulan dan
Raja Isombaon dan mungkin juga mempunyai anak perempuan.
Si Raja Batak mendapatkan 7 (tujuh) cucu dari 2 (dua) anak, cucu dari anak pertama atau Guru Tetea Bulan yaitu :
1. Saribu Raja.
2. limbong.
3. Sagala.
4. Malau Raja,
dan cucu dari anak kedua atau Raja Isombaon yaitu :
5. Tuan Sorimangaraja.
6. Raja Asiasi.
7. Tuan Songkal Somalindang maka total 7 (tujuh) cucu si Raja Batak.
Keturunan dari Guru Teta Bulan adalah :
1. Saribu Raja mempunyai anak masing-masing bermarga Lontung dan Borbor.
a. Lontung memperanakkan : Sinaga – Situmorang – Pandiangan – Nainggolan – Simatupang – Siregar – Aritonang – Rumapea – Samosir – Gultom – Pakpahan – Sitinjak – Parhusip – Lumban Raja – Togatorop – Sianturi – Ritonga – Siburian – Harianja – Sormin – Op. Sunggu – Raja Gukguk.
b. Borbor memperanakkan : Harahap – Parapat – Matondang – Sipahutar – Saruksuk – Habeahan – Lubis – Pasaribu – Batubara – Tanjung – Hutasuhut – Daulay – Simargolang.
2. Limbong marga Limbong sampai saat ini belum berubah marganya Keturunannya : Limbong – Polu Onggang – Langsat.
3. Sagala belum berubah marganya Keturunannya : Sagala – Huta Ruar – Huta Bagasan – Huta Urat..
4. Malua Raja Keturunannya : Malau – Lambean – Manik – Ambarita – Gurning – Damanik.
Keturunan dari anak Raja Isombaon adalah
5. Tuan Sorimangaraja memperanakkan 3 (tiga) orang dari 3 orang istri bernama :
a. Tuan Sorbadijulu dari Istri (i) Nai Ambaton, keturunannya ada sebanyak 62 marga (sebagian ada di Tarombo), : – Simbolon – Munte – Tambatua – Saragitua – Haro (Karo) – Sitanggang – Sidabutar – Sidabalok - Siadari – Sijabat – Simarmata – Nadeak – Sitio – Pinayungan – Mahe – Tumanggor – Tinambunan - Sigalingging
b. Tuan Sorbadijae dari istri (ii) Nai Rasaon keturunannya ada di Tarombo : – Manurung – Sitorus – Sirait – Butar-butar,
c. Tuan Surbadibanua dari istri (iii) Nai Suaon, keturunannya ada 8 orang anak : Sibagotni Pohan – Sipaetua – Silalahi Sabungan – Siraja Oloan – Sihuta Lima – Si Raja Sobu – Si Raja Somba – Naipospos..
- Sibagotni Pohan memperanakkan : – Tuan Sihubil – Tuan Dibangarna – Tuan Samanimbit – Raja Sonakma Lela. ( - Tampubolon – Panjaitan – Silitonga – Siagian – Sianipar – Siahaan – Simanjuntak – Hutagaol – Nasution – Simangunsong – Marpaung – Napitupulu. )
- Sipaetua memperanakkan Marga : – Sarumpaet – Hutahaean – Aruan – Hutajulu – Sibarani – Sibuea – Pangaribuan – Hutapea.
- Silahi Sabungan memperanakkan : – Silalahi – Sihaloho – Situngkir – Sondi – Sinabutar – Tambun – Tambunan – Dolok Saribu – Nadapdap – Naiborhu – Sigiro – Sinurat.
- Siraja Oloan memperanakkan : – Naibaho – Bako – Sihotang – Bakkara – Sihite – Simanullang – Hasugian – Sinambela.
- Sihuta Lima memperanakkan : – Karo-karo – Sembiring – Perangin-angin – Ginting – Tarigan.
- Siraja Sobu memperanakkan : -Sitompul – Hasibuan – Hutabarat – Panggabean – Simorangkir – Hutagalung – Hutapea – Lumban Tobing.
- Si Raja Sumba memperanakkan : – Simamora – Purba – Manalu – Debata Raja – Rambe – Sihombing – Silaban – Lumban Toruan – Nababan – Husoit.
- Naipospos memperanakkan : – Lumban Batu – Banjarnahor – Lumban Gaol – Sibagaring – Hutahuruk – Simanungkalit – Situmeang.
6. Raja Asiasi memperanakkan marga-marga yang berada di Pulau Nias: – Telaumbanua – Harefa – Zebua – Waruru – Mendrofa – Larosa – Lase – Halawa – Gulo – Daely – Baeha – Bulolo – Silogi – Zai.
7. Tuan Songkal Somalindang sampai sekarang keturunannya tidak dapat diketahui (tetapi ada yang mengatakan adalah asal mula suku Aceh ? ).
Bila ada kesalahan atau koreksi kami mohon untuk di maafkan dan kami minta untuk dapat disempurnakan bila ada yang lebih mengetahui.
Demikianlah Legenda dari keturunan Si Raja Batak.
Saringan dari Buku DOLOK PUSUK BUHIT

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar