Mengingatkan yang terlupa, menjemput yang tertinggal, mengemaskan yang tercecer " ELING LAN WASPADA"

Rabu, 03 Agustus 2011

TUNGGUL SABDO JATI DOYO AMONG ROGO ( SEMAR ) 1610

SEMAR. Jangan diartikan sebutan Dahyang karena berdasarkan kamus Bahasa Jawa arti dari Dahyang adalah : makhluk halus / maya, sedangkan Bhatara Ismaya / Semar tidaklah selamanya makhluk halus, karena didalam sejarah Nusantara / Indonesia beliau sering menjelma dan menjelma lagi dalam waktu yang tidak lama lagi, karena beliau Pamong Ksatria Nusantara yang bisa menciptakan situasi, Tata Tentram Kitha Raharja, Gemah Ripah Loh Jinawi di Nusantara ini.
Penjelmaan SEMAR di Nusantara berubah-ubah sesuai jamannya seperti :
Jaman Kerajaan Singosari I (Rejeng) sekitar gunung Bromo, beliau bernama Kyai Tuki Buda Manang, Munung
Jaman Kediri, beliau bernama Kyai Bancak
Jaman Majapahit beliau bernama Kyai Sabdopalon
Setelah kehancuran Kerajaan Majapahit, beliau menguasai Kerajaan Gaib / Lelembut, beliau bernama Kaki Tunggul Sabdo Jati Doyo Among Rogo
Untuk penjelmaan nanti, beliau kembali bernama Semar dan muncul bersamaan Pralaya Nusantara, banyak bencana di Indonesia ini dengan menelan banyak korban, kapan itu? Kita tunggu saja nanti.
Istilah Bhatara bukan berarti Raja yang mulia (Noble Lord), akan tetapi lebih mencakup penjelmaan swataara yaitu penjelmaan Dewata terutama Dewa Wisnu. Secara etimologi kata Ismaya berasal dari akar kata Iish artinya menguasai, sedangkan mayaa artinya aspek dinamis Substansi Universal. Jadi kata Ismaya mengandung arti menguasai aspek dinamis Substansi Universal. Ismaya merupakan kesadaran kosmis dinamis yang dilambangkan dalam wujud bulat Bathara Ismaya / Semar yang bergerak.
Ditinjau dari pelaksanaan Yoga, fakta metaphisis menempatkan beliau pada tataran “Avadhoot” yang mewujudkan Shakti Baglamukti sehingga terbatasinya kesadaran sarira dengan segala macam dualitas dan segala standart konvensional, yang merupakan suatu tataran / tingkatan di bidang Yoga yang dilambangkan oleh Bhatara Ismaya / Semar dalam kiprahnya / kroda dengan membalikkan sarira sehingga posisinya dari berhadapan (dualistis) menjadi searah (tunggal). Searah meniadakan dualitas / sambil “ngenthut” (ava menjadi hawa dan dhoot menjadi kentut), sehingga menjadi jelas bahwa Bhatara Ismaya merupakan aspek dinamis kosmis Hyang Tunggal disamping aspek statis kosmis Hyang Tunggal. Kalau aspek statis kosmis Hyang Tunggal dilambangkan sebagai titik pusat lingkaran, maka Bhatara Ismaya merupakan bagian luar titik sampai garis lingkaran yang bergerak.
Dari tingkatan Yoga Langka Dwipa yang terdiri tujuh tataran (Sapta Murti) maka Hyang Tunggal menempati ubun-ubun / Sahasra-Cakra, sedangkan Bhatara Ismaya menempati jambul / Soma Cakra. Dalam hirarki Yoga di India, Soma Cakra ditetapkan sebagai Cakra Rahasia karena para Yogi India hanyalah berbicara pada kualitas moral dan psikologis saja.
Bhatara Ismaya mematuhi perintah Hyang Wenang yaitu tidak akan menempatkan diri dalam visi yogi-yogi India, itulah sebabnya dalam Ramayana dan Mahabarata versi India figure Semar tidak ada.
Apa hubungannya Bhatara Ismaya dengan Hyang Manikmaya / Shiwa? Bhatara Ismaya adalah kesadaran kosmis-dinamis, maka dalam pelaksanaannya gerak dari kosmis-dinamis meliputi:
Pertumbuhan / Brih / Brahma / yang berpusat di simpul Brahma Granthi (di tengah selangkangan) yang oleh R.Ng.Ronggowarsito di bahasakan Arab dengan istilah “Baital Mukhadar”
Pemelihara / Vishi (Wisnu) yang serba meliputi dan berpusat di simpul Vishnu (hati)/ Vishnu Granthi yang di bahasakan Arab menjadi Baital Muharam
Pemulihan kembali (Shiv) / Shiva berpusat di Simpul Shiva / di mata ketiga ditengah, ditengah kening dengan kedalaman 1,5 inchi, di bahasakan arab oleh R.Ng.Ronggowarsito menjadi Bital Ma’mur

Doktrin Tri Murti bersumber pada Bhagawan Vyasa (Abiyasa), yaitu Non-Arya keturunan Bharata yang sempurna hidupnya karena beliau telah mencapai Cirajiwi / Murca / lenyap, akan tetapi tidak pernah menemui para Yogi dalam visinya Yogi India.
Sebenarnya tidaklah sulit menemui beliau dalam visi, terutama bagi mereka yang mau bersusah payah untuk mendaki puncak Gunung Sapta Arga (Gunung Semeru). Bhagawan Abiyasa adalah guru yang berfungsi sebagai pembuka Pratyaksa Vidya yaitu pengetahuan langsung tanpa Indra dan Ratio.

Kembali pada tokoh Semar, maka ada petunjuk dalam serat Raja Pati Grendala yang menyebutkan dua tokoh Nusantara / Langka Dhvipa / Salmali Dhwipa / Lemuria / Indonesia itu Bathara Semar dan Sang Hyang Wamana. Kedua nama tersebut adalah sama, karena nama dari leluhurnya Orang asli Nusantara yang merupakan Avatara ke-5 Dewa Wisnu dalam wujud manusia kerdil dari lembah Bhagawan Soma / Sala adalah leluhur / Pitri Bangsa Nusantara dan Agama Triwikrama yaitu Agama asli berkembang melalui melalui proses heriditi kurang-lebih 2 juta tahun SM.
Jadi dengan demikian terjawab sudah bahwa Semar itu adalah Cikal Bakal Bangsa Nusantara yang merupakan bibit kawitan manusia Nusantara asli yang selalu menghormati leluhur.

1 komentar:

  1. Terima kasih dan Salam Perkenalan, saya D, Santoso mohon kiranya bisa ditampilkan tulisan lebih tentang Eyang Kaki Tunggul Jati di Era Majapahit, dari awal mula sejak Raden Wijaya s/d Raden Kertabumi. Kunjungi saya dengan ketik : sanggar klenik

    BalasHapus