Menjemput yang Tertinggal, Mengemaskan yang Tercecer, Mengingatkan yang Terlupa " ELING LAN WASPADA"

Kamis, 23 September 2010

PERAN PENGANUT KEPERCAYAAN

BERBICARA MENGENAI SEJARAH SEBENARNYA DIPERLUKAN ADANYA DATA AUTENTIK SEPERTI HAL PENULISAN SEJARAH BANGSA-BANGSA PADA UMUNYA YANG BIASA KITA KENAL DENGAN ISTILAH SEJARAH INDONESIA , SEJARAH KEBUDAYAAN INDONESIA KHUSUSNYA YANG SEHARUSNYA TELAH MEMUAT LENGKAP PERTUMBUHAN KULTURAL BANGSA INDONESIA ITU SENDIRI , TERMASUK DIDALAMNYA ADALAH MENGENAI KEAGAMAAN YANG BERLAKU DINEGARA REPUBLIK INDONESIA DAN PENGANUT AGAMA KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA.

KESENIAN PADA UMUNYA , KETATANEGARAAN DAN LAIN SEBAGAINYA , TERUS TERANG SAJA TIDAK BANYAK MEMILIKI PERBENDAHARAAN YANG LENGKAP ATAU YANG DIPERLUKAN UNTUK ITU , NAMUN HANYA CATATAN-CATATAN KECIL DAN WEJANGAN-WEJANGAN DARI PARA SESEPUH DAN GETOK TULAR DARI SEPUH DAN SESEPUH PENGHAYAT KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA , YANG MAMPU MENJADI FAKTOR PENDUKUNG TERWUJUDNYA DARI BAGIAN INI , NAMUN BETAPAPUN SULITNYA DENGAN ITIKAD BAIK DAN MULIA UNTUK SELALU MENCOBA MENUTURKAN MAKNA RUKUN ANTAR UMAT BERAGAMA.

PENYEBUTAN KEPADA YANG MUTLAK ADANYA , ITU SEPERTI SEKARANG YANG KITA KENAL DALAM PERADABAN KEMERDEKAAN YANG TERCANTUM DALAM UUD 1945 ADALAH KETUHANAN YANG MAHA ESA SETINGGI-TINGGINYA , PENYEBUTAN HANYALAH MENUNJUKKAN KEPADA KEKUASAANNYA DAN HANYA SIFAT TUHAN YANG MAHA ESA. NAMUN JELAS SEKALI BAHWA FAHAMNYA ADALAH MONOTHISTISCH YAITU MAHA TUNGGAL KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA TIDAK MENDUALISMEKAN TUHAN DAN PERCAYA BENAR ADANYA HYANG MAHA TUNGGAL ITU DAN SERTA DILAKUKAN SEMBAYANG SECARA SUNGGUH-SUNGGUH , TERATUR , DISIPLIN DAN RUTIN SEHINGGA MENJADI SUATU KEWAJIBAN YANG HARUS DILAKUKAN.

DITINJAU DARI SEGI SPIRITUAL , HISTORIS DAN SOSIOKULTURAL , kEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA PADA UMUMNYA DAN KHUSUSNYA BAGI WARGA PENGANUTNYA ALIRAN AGAMA KEPERCAYAAN ADALAH MERUPAKAN WARISAN BUDAYA PERADABAN NUSANTARA ASLI YANG TAK LAPUK KARENA HUJAN DAN LEKANG KARENA PANAS.

DENGAN BUDAYA KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA , BANGSA INDONESIA MAMPU MENJADI PAMONG DALAM SEGALA KEADAAN ZAMAN YANG ADA. SEBAB DENGAN MENGHAYATI AJARAN KEPERCAYAAN TUHAN YANG MAHA ESA AKAN MENUMBUHKAN WATAK DAN SIKAP PERILAKU DAMAI DAN MERDEKA , DALAM RANGKA MELAKSANAKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA YANG BERKEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB. DITINJAU DARI ILMU HUKUM , KEPERCAYAAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA DENGAN SISTEMATIK PERIBADATANNYA DAPAT DIJADIKAN SEBAGAI SUMBER HUKUM MATERIIL SOSIOKULTURAL , SEBAB TIDAK PERNAH ADA UNTUK MENGUSIK KETENANGAN UMAT DALAM MELAKUKAN HAL PRINSIP TERSEBUT , JADI SUPAYA JANGAN ADA SELALU BENTURAN DAN MENCARI KEBENARANNYA MASING-MASING DALAM HAL UMAT BERAGAMA YANG SESUNGGUHNYA. APAPUN BENTUK DARI RITUALNYA ITU ADALAH HAK DARI PENGANUT AGAMA YANG BERBEDA-BEDA , PADAHAL TUJUANNYA ADALAH TETAP KEPADA TUHAN YANG MAHA ESA.

KARENA DINEGARA MANAPUN BELUM TENTU ADA BERAGAMANYA SEPERTI NEGARA INDONESIA YANG BERANEKA RAGAM SUKU DAN AGAMANYA YANG BISA BERSATU DALAM SATU LANDASAN PANCASILA DAN BHINNEKA TUNGGAL IKA , INI SEMUA SUNGGUH UNIK APABILA KITA MAU MENYADARINYA DENGAN SEKSAMA , TAPI KENAPA KITA SELALU TERJADI BENTURAN AKIBAT AGAMA DENGAN AGAMA YANG LAINNYA . JUSTRU PADA HAKEKATNYA KITA SEMUA INI SAMA DIHADAPAN TUHAN YANG MAHA ESA KARENA KITA ADALAH CIPTAANNYA JUGA KALAUPUN ADA TERJADI PERBEDAAN SOAL NAMA AGAMA ITU IALAH HAK DARI PADA PENGANUT ATAU PENGIKUT AGAMA MASING-MASING TERSEBUT , YANG TERPENTING SEKALI HARUS DISADARI SEMUA BANGSA INDONESIA TETAP MEMUJA DAN MEMUJI KEAGUNGAN TERHADAP TUHAN YANG MAHA ESA.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar