Menjemput yang Tertinggal, Mengemaskan yang Tercecer, Mengingatkan yang Terlupa " ELING LAN WASPADA"

Jumat, 05 November 2010

PERGESERAN PARADIGMA DAN REVOLUSI BERPIKIR

Sebagai pergeseran paradigma dan revolusi berpikir yang terjadi dalam bidang astronomi, dari pandangan PTOLOMEUS ( Bumi - Sentris ) bergeser kepada COPERNICUS ( Matahari - Sentris ), dengan demikian pula terjadi sesuatu dalam olah pikir manusia dan dalam pemikira-pemikiran soal keagamaan. Umat beriman tidak bisa lagi berpura-pura melihat dirinya seolah-olah merupakan stu-satunya kriteria untuk menilai orang lain yang berbeda . Sebab orang lain juga dalam kedudukan untuk menilai, suatu agama atau kelompok agama bukan lagi merupakan satu-satunya pusat, melainkan hanya salah satu pusat dari banyak pusat. Didalam pluralisme orang bergeser dari " EKSKLUSIFISME " ke " PLURALISME ", dari MONO - SENTRISME kepada POLI - SENTRISME.


Revolusi kopernikan dalam astronomi telah menjadi model bagi pergeseran pemahaman, dari bumi sebagai pusat ke matahari sebagai pusat, dari agama sebagai pusat menuju TUHAN sebagai pusat, ada satu TUHAN dengan banyak iman, ada satu iman dengan banyak penampilan ( KEAGAMAAN ). Kita melintasi sebuah daerah demarkasi " RUBICON " untuk melangkah dari paradigma EKSKLUSIFISME - INKLUSIFISME ke PLURALISME, atau lewat penelahan sejarah dari paradigma " CONQUEST " bergeser ke " COMPETITION " dan bermuara pada paradigma " UNITY INDIVERSITY ". Melintasi daerah demarkasi rubicon berarti kita menghadapi resiko " RELEGIOUS CIVIL WAR " dalam setiap individu agama, dan anehnya ancaman " CIVIL WAR " itu justru terjadi ketika kita secara tulus hendak menghargai agama-agama lain selaku bentuk dan ekspresi yang sah dan yang intergritasnya harus diakui. Salah satu agama apapun tak perlu membenarkanatau menyalahkan agama lain, bukan norma untuk menganggap agama lain salah atau benar.

Dialog antar agama selaku jalan damai dan jalan panjang bagi pembentukan masyarakat, bangsa dan negara yang lebih manusiawi, dialog adalah sebuah percakapan timbal balik, saling mengemukakan dan mendengarkan pendapat, dialog adalah upaya diagnose dan sekaligus terapi terhadap " SOCIAL AND HUMAN EVIL ". Dialog antar agama merupakan ekstensi dari dialog intr agama dan dialog merupakan sebuah langkah untuk membina umat masing-masing agama untuk mampu hidup dalam pluralisme.

Mampu menghargai pendapat yang berbeda, mampu melakukan kompromi dan konsensus dalam menghadapi persoalan kemanusiaan dan kemasyarakatan, dengan kata lain dialog secara politis memberi dasar kepada kehidupan demokrasi. Dalam masyarakat agamais seperti masyarakat INDONESIA , peran agama dalam membangun kehidupan demokrasi amat menentukan. Dialog antar agama bukan hanya suatu komitmen TEORITIS , akan tetapi sangat menentukan kerjasama dalam pratek kehidupan. Kerjasama itu tidak didasarkan atas tujuan strategis, politis dan sama sekali bukan hanya kerjasama TAKTIS , akan tetapi merupakan kerjasama FUNDAMENTAL. khususnya dalam keprihatinan etik yang merupakan konsensus minimum dari agama-agama sebagai dasar bagi kerjasama praksis bersama masyarakat, menuju cita-cita luhur tentang INDONESIA baru dimasa depan.

SALAM SEMANGAT ... API PANCASILA ... MERDEKA , MERDEKA , MERDEKA .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar